Kini Ia Mengalahkan Rasa Cintanya

Deru nyanyian ibu kota di pagi ini menyisakan tawa kecil di setiap sudut bibir-bibir itu. Menyunggingkan senyuman bahkan kemudian tawa terbahak. Ketika mata kemudian kembali tertuju pada sebaris catatan, apa yang terjadi kembali terulang lagi.

Erat digenggam, hingga tak rela rasanya diri ini terlepas darinya.

Aku mengelilingkan pandang menuju jendela, hitamnya debu tak lagi membuat pilu hatinya. Semua seolah terbakar habis tak bersisa karena kehadirannya.

Sebuah benda kecil dan juga tak bernyawa. Namun ternyata kini telah mengalahkan rasa cintanya. Cinta yang mungkin dulu ia berikan pada mereka orang-orang terkasihnya, namun kini denting tone dan sebaris kata yang ia baca darinya telah lebih meluapkan rasa bangga dan gembiranya.

Gaya sosial di zaman baru yang menggusur jauh pertemanan yang klasik ibarat di zaman batu, itulah ia, gaya sosial warga ibu kota yang kini juga telah menjalar hingga ke pelosok desa. Berinteraksi lewat dunia maya, yang tak lagi membutuhkan langkah kaki, erat jabat tangan, sungging senyuman dan kontak mata. Namun cukup dengan luapan rasa lewat untaian kata, dan itu telah menggantikan semuanya.

Sebuah era baru yang entah kapan akan berganti kembali …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s