Tak Perlu Tampak Dilihat!

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

“Roooooti! … Roooooooooooti! …”, begitu berulang kali suara itu yang hampir selalu aku dengar setiap usai shubuh disini. Di tempat yang tak terasa sudah hampir satu tahun aku menempatinya.

Satu, dua, tiga orang, atau mungkin bahkan lebih dari itu biasanya para penjual roti keliling yang mulai beroperasi selepas shubuh melewati area tempat kost-ku disini. Sebuah jalanan kecil berlapis semen yang dikiri kanannya kini sudah semakin banyak bolong-bolongnya itu memang menjadi salah satu saksi sejarah bagi beliau-beliau rupanya. Menyusuri gang-gang sempit, masuk keluar pemukiman penduduk di satu sudut kemewahan ibu kota, semua harus menjadi satu pilihan bagi mereka dalam memaksimalkan ikhtiarnya, berjuang bagi anak-anak dan istrinya.

Pagi itu sengaja aku menegurnya ketika kami selesai wirid seusai shubuh di musholla. Bapak itu sepertinya memang salah satu dari mereka, mereka yang hingga pagi nanti biasanya suaranya masih menghiasi ruang dengar kami para warga disini. Aku menyadari kehadiran beliau ketika kudapati sebuah tanggungan di halaman musholla. Kiranya memang demikian, bapak itu meninggalkannya disana untuk menunaikan shubuh berjamaah bersama kami saat itu.

“Rotinya dua, pak”, ucapku membuka pembicaraan saat itu.
Dengan lihainya sesaat kemudian, ia mengepak roti-roti itu kedalam dua bungkusan, dan menyerahkannya padaku. Aku tidak langsung menerimanya, tapi justru sengaja mencuri waktunya untuk menghabiskan kepenasaranku.

“Rumahnya dekat pak?”, tanyaku.
“Iya mas, dua gang dari sini ..”, jawabnya sambil tersenyum.

Aku sadar, semakin banyak aku bertanya disana, semakin banyak juga aku akan menyita waktunya. Makanya, setelah aku menyodorkan selembar uang lima ribuan, aku mengajaknya untuk melanjutkan rute jualannya yang kebetulan memang mengarah ke daerah tempat kost-an ku.

Sambil berjalan, aku masih sempat menanyakan apa roti-roti itu buatannya sendiri atau bukan, kapan membuatnya, berapa banyak biasanya produksinya, dan lain sebagainya. Aku tak tahu, keterlaluankah aku saat itu, telah mengambil nafas beliau untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Padahal seharusnya beliau berteriak-teriak lantang menjajakan dagangannya. Maafkan saya pak, ampuni aku yaa Rabb.

Sampai akhirnya aku tertegun, berdiri di depan gerbang rumah menyaksikan punggung beliau yang semakin jauh semakin hilang dan lenyap di ujung gang, berbelok ke arah jalanan, yang selanjutnya menembus Sudirman.

Saat itu aku masih berdecak kagum atas kegigihan beliau dalam mengais rezeki. Mungkin pikirku dia termasuk orang-orang yang lebih awal dalam menjemput rezekinya dibandingkan kami yang masih menunggu hingga waktu menunjukkan pukul setengah delapan atau pukul delapan nanti. Ketika ternyata aku tahu bahwa beliau telah memulai ikhtiarnya sejak sore kemarinnya jika akan menjual roti. Dari mulai membuat adonan, hingga mengukusnya di saat dini hari menjelang.

“Nggak tahajud pak?”, candaku saat itu, ketika beliau berkata bahwa agar rotinya masih hangat maka ia kukus di dini hari.
“Alhamdulillah mas, meski saya jarang bisa berjamaah dengan istri, karena harus bergantian mengukus roti-roti ini”, ujarnya sambil tersipu.

Hampir saja aku tercekat saat itu. Subhanalloh, bulir-bulir ke-Maha sucian-Mu yaa Rabb, engkau telah hadirkan dihadapanku, saat itu.

Hampir saja aku tak percaya, melihat penampilan beliau. Terlalu sulit membayangkan seseorang, disaat sebuah kewajiban akan maksimalnya ikhtiar dilakukan, ternyata masih bisa ia padukan dengan sisi-sisi ke-Maha Agungan dalam beribadah. Jujur, aku mungkin merasa iri pada beliau. membandingkan dengan diri ini yang terlalu lemah, bahkan mungkin terlalu sering lupa untuk menunaikan meski sekedar dua raka’at saja di sepertiga malam terakhir, ternyata beliau bisa, bahkan insyaAlloh dengan keistiqamahannya. Ternyata memang untuk berbuat kebaikan itu tak perlu tampak dilihat.

Ada titik-titik air mata yang mulai berada di pelupuk mata ini. Aku bersyukur pada-Mu yaa Rabb, telah Kau ajari aku untuk memahami arti penghambaan yang sesungguhnya.

Dalam sebuah siang, aku kembali bertemu dengan beliau. Setelah dua tiga kali pertemuan kami seusai shubuh di musholla itu. Aku kaget dibuatnya, ternyata ketika selesai beliau menjual roti-rotinya, beliau masih setia keluar masuk bis kota, menjajakkan minuman botol. Subhanalloh, aku kira setelah kerja semalaman beliau gunakan waktu siangnya untuk beristirahat, tapi ternyata tidak.

Aku semakin paham akan hal ini yaa Rabb, memang betul ternyata, “Kedua telapak kaki seorang hamba yang beriman tidak akan pernah berhenti menjejak, hingga ia menjejakkan kakinya di pintu Surga”.

Wallahu’alam bish-shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s