Selamat Berjuang, Ustadz!

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

“Eh … Assalamu’alaikum ustadz”, sapaku sambil tersenyum dan hampir saja tergagap saat itu. Sesaat ketika menoleh seusai aku mengambil air wudlu di tempat wudlu yang terletak di pelataran samping bawah mesjid itu.

Beliau kemudian menjawab salamku dan kamipun berjabat tangan, erat sekali. Aku merasa ini untuk kali pertamanya kembali aku bertemu dengan beliau, setelah entah berapa lama aksi-aksi sudah jarang lagi kami lakukan di jalanan ibukota. Mungkin kalaupun aku bertemu beliau setelah moment-moment aksi tersebut, paling juga di beberapa kesempatan kampanye menjelang pemilu legislatif beberapa saat yang lalu saja. Itupun hanya dari kejauhan.

Kami kemudian berjalan beriringan, menaiki satu persatu anak tangga berlapis keramik yang warnanya kini mulai memudar. Aku masih saja memperhatikan gerak beliau. Semangatnya masih cukup membuat kami bangga, padahal di usia beliau seperti sekarang, banyak orang lebih memilih untuk pensiun dini, memilih untuk bisa beristirahat lebih awal dari masalah-masalah yang dihadapinya. Tapi ternyata justru lain dengan beliau, beliau sepertinya justru semakin hari semakin bersemangat saja mengurusi ummat.

Dzuhur memang masih sekitar setengah jam lagi menjelang. Suasana mesjid berlatar putih itu kini terasa semakin bertambah sejuk, ketika angin-angin dingin mulai masuk dan berhembus melalui jendela-jendela yang terbuka hampir di sekelililing ruangan masjid. Dari sana aku bisa menatap dedaunan yang melambai-lambai para pengguna jalanan yang melintas dihadapannya serta mengajak untuk bersegera mempersiapkan diri untuk menunaikan Dzuhur, tepat di awal waktu.

Setelah tahiyyatul masjid aku beringsut menuju tempat duduk beliau. Ingin rasanya aku mendengarkan kembali tausyiah-tausyiahnya yang biasanya selalu saja berhasil membuka mata hati ini. Membuka dan menyadarkan atas kelafaan diri, hingga mampu membawa kembali pada kobaran semangat untuk memperbaikinya setelah itu.

Perbincangan kamipun berlanjut mengisi waktu sebelum Dzuhur siang itu.

Sesaat aku menunjukkan kepada beliau sebuah tulisan di sebuah media. Tentang kontroversi pengesahan sebuah Rancangan Undang Undang menjadi sebuah Undang undang, yang mengangkat satu tema tentang Pornografi dan Pornoaksi, yang baru saja disyahkan oleh para anggota Dewan beberapa bulan yang lalu.

“Ini yang membuat aneh bagi saya ustadz”, jawabku saat itu ketika beliau bertanya tentang apa maksudnya aku menyodorkan tulisan tersebut.
“Ternyata masih banyak kalangan yang menolak hal ini. Dan yang ironis justru banyak pula dari mereka adalah justru kalangan perempuan. Padahal bukankah ini justru lebih banyak untuk melindungi mereka? lebih banyak untuk mengangkat harkat dan martabat mereka?”, lanjutku berapi-api.

Ia hanya tersenyum, sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku.

“Itulah akhi, sebetulnya ini memang permasalahan ummat yang cukup rumit. Ini menjadi ‘PR’ besar bagi kita untuk menyadarkan mereka yang saat ini mungkin masih terlalu asyik dengan hal-hal yang justru akan semakin jauh menempatkan mereka pada wanginya surga”.

“Mereka terlalu takut ketika hal itu dilaksanakan sepenuhnya, maka tak ada lagi mata pencaharian bagi mereka. Tak ada lagi ladang usaha bagi mereka untuk mengais rezeki. Padahal, wallohi, bukankah justru Alloh akan memberkahi rezeki pada setiap hamba-Nya itu jika hamba-Nya tersebut mendapatkannya dengan jalan yang halal, serta dari pintu yang halal juga”. Tutur beliau panjang lebar.

“InsyaAlloh ini menjadi satu ladang amal lagi buat kita akhi. Menyadarkan mereka secara bertahap, hingga akhirnya bisa meraih hasil yang maksimal. Menyadarkan mereka hingga akhirnya mereka bisa bersama-sama dengan kita menghirup nafas-nafas kerinduan akan keridhaan Alloh, bukan jutru malah menyebabkan mereka benci dan menjauh dari kita.”

Aku hanya mengangguk-angguk, merangkai angan, membayangkan beberapa usaha dan upaya dari beberapa sodara kita yang mungkin salah satunya membuat mereka justru lari dan semakin menjauh dari kita.

“Terus menurut ustadz, apa upaya dari anggota Dewan yang telah menyetujui pengesahan Undang-Undang tersebut menjadi sesuatu hal yang percuma dan sia-sia? ketika kini ternyata tak ada sedikitpun beda dalam kenyataanya? Pornografi dan Pornoaksi justru rasanya malah makin menjadi …”, lanjutku.

“InsyaAlloh, ini salah satu yang kita agendakan juga bersama rekan-rekan yang lain. Rekan-rekan yang ada di parlemen, rekan-rekan yang ada di eksekutif, semuanya secara perlahan namun tetap berusaha maksimal untuk bisa secepat mungkin membenahi ummat ini. Rekan-rekan di parlemen telah berusaha maksimal, dan alhamdulillah ternyata Alloh menganugerahkan ridha-Nya hingga akhirnya Undang Undang tersebut dapat disahkan. Dan sekarang, do’akan semoga rekan-rekan di eksekutif-pun bisa segera memaksimalkan usahanya untuk ini”, lanjut beliau.

“Iya betul ustadz”.
“Terus, harapan saya mungkin dikemudian hari sepertinya kita sudah saatnya untuk bisa berada pada posisi-posisi penting yang menjadi tombak pelaksanaan Undang-Undang tersebut ya ustadz?, siapa tahu mungkin misalnya kalo ustadz yang menjadi Menkominfo bisa sesegera mungkin memberantas pornografi di media, hehe”, candaku.

Kami berdua terkekeh …
“insyaAllloh … insyaAlloh akhi …, mohon do’anya saja semoga dimanapun tempat kita berada, sebagai apapun posisi kita di masyarakat, kita bisa memaksimalkan upaya untuk memberantas hal itu”, sambut beliau.

Lantunan ayat Al-Quran semakin terdengar jelas saat itu. Hingga akhirnya adzan-pun berkumandang. Dan akupun terkejut, ketika mendapati tubuh ini terlelap di atas sajadah setelah menunaikan tahajud beberapa waktu yang lalu. Ternyata aku bermimpi. Dan adzan yang berkumandang itu kini ternyata bukan adzan Dzuhur yang kami nantikan seperti dalam mimpi tadi, namun justru adzan shubuh, yang telah membangunkan ummat-ummat Muhammad untuk segera berdiri menghadap panggilan suci.

(Sebuah catatan atas mimpi yang belum pernah terlaksana dalam nyata, berbincang dengan beliau Ustadz Tifatul Sembiring. Semoga Alloh memberikan kekuatan dan kemampuan untuk mengemban amanah sebagai salah satu ujung tombak pembenahan ummat, sebagai Menkominfo 2009-2014. Barokallohulaka …, Selamat Berjuang, Ustadz)

3 thoughts on “Selamat Berjuang, Ustadz!

  1. hmcahyo mengatakan:

    peratamax aja😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s