Menyibak Satu Tirai Malam

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

Malam itu memang belum terlalu larut, empat buah angka digital di handphone-ku-pun baru bertuliskan 08:42. Tapi aku coba merebahkan tubuh ini diatas sebuah kasur yang kini sudah tergeletak di ujung ruangan mungil ini.

Kelelahan setelah melalui perjalanan yang hampir memakan waktu lebih dari 4 jam itu telah membuatku mendambakan kesempatan ini. Sendiri, menikmati sepi, bercanda dengan malam sambil berada dalam sebuah ruang gelap ditemani wangi pengharum ruangan yang baunya kini mulai merebak masuk ke rongga-rongga ini.

Perlahan satu persatu mata inipun mengajak pergi meninggalkan malam yang semakin pekat menutup aroma ibu kota.

Namun entahlah berapa lama mata ini terpejam, ketika ruang dengar ini mulai terisi oleh bacaan-bacaan ejaan ayat al-quran, semakin lama semakin jelas. Dan aku menikmatinya, meski memang alunannya terkadang harus terhenti dibeberapa bagian yang tidak tepat. Seorang wanita tengah mengeja bacaan yang luar biasa indahnya Alloh kirimkan untuk kita, ummat-ummat pilihannya. Sesaat kemudian seorang pria berusaha membetulkan bacaan yang terhenti itu kemudian membimbing, menemani serta menuntun bagaimana bacaan itu seharusnya dilafalkan.

Aku semakin menikmatinya.

Tempat kost yang saya tempati di sisa-sisa kemegahan ibukota ini memang berderet panjang dalam sebuah koridor yang telah menjadi penghubung diantara kami. Namun, untuk beberapa lama ini kamar yang tepat di sebelah kamarku memang tak ada penghuninya. Dan aku baru tahu kalau ternyata sejak beberapa malam sebelumnya, ibu dan bapak kost telah menjadikan kamar itu tempat belajar mengaji.

Aku mengangkat tubuh ini, perlahan membuka daun pintu dan berjalan di koridor itu untuk menuju keluar mengambil wudhu. Sesaat aku terhenti di depan pintu kamar itu. Seakan memastikan bahwa apa yang telah aku dengar beberapa saat tadi adalah bener-benar ada, bukan sebuah cerita yang mengisi alam mimpiku di malam ini.

Aku tersenyum, ada tangis dalam hati. Namun entahlah, mungkin juag ada rasa cemburu dalam jiwa ini.

Ketika mencoba mengingat begitu banyak pasangan-pasangan muda yang begitu nekatnya mengambil sebuah keputusan untuk mengakhiri perjalanan pernikahan mereka, ketika acara-acara infotainment di televisi dengan bangganya menyiarkan juga konflik-konflik perjalanan rumah tangga para pasangan selebritis, atau bahkan juga ketika kawin-cerai, dan berganti pasangan hidup menjadi satu tradisi baru diantara beberapa kalangan, na’udzubillah. Ternyata, alhamdulillah setidaknya ibu dan bapak kost yang saya amanahi akan diri ini, juga untuk bisa seakan menjadi orang tua kedua diri saya ketika berada di satu sisi ibu kota ini, jauh dari sifat seperti mereka. Padahal di usianya yang aku kira tidak kurang dari 60 tahunan, mungkin perjalanan pernihakannya hampir atau bahkan mungkin telah terlewat dari usia emas sebuah rumah tangga.

Dalam beberapa kesempatan, akupun mendapati mereka selalu paling awal hadir dalam acara pengajian di lingkungan ini. Bahkan pak Abidin, bapak kost-ku itu, tak jarang selalu menjadi mu’adzin di masjid, beliau telah lebih dulu mengumandangkan adzan disana padahal jamaah-jamaah lainnya baru melangkahkan kaki keluar dari rumah-rumah petakannya ketika waktu sholat tiba.

Sisi sebuah kepemimpinan dalam Islam memang terlebih dahulu telah harus ditampilkan dalam setiap pribadi ketika ia memimpin masing-masing dirinya. Namun, sisi kepemimpinan itu akan lebih terlihat ketika seorang suami mampu untuk bagaimana membimbing seorang hamba lainnya menjadikan ia seorang yang shalihah dalam menemani perjalanan rumah tangganya. Dan malam itu aku telah sedikit menemukannya pada diri beliau. Alhamdulillah, sebuah pelajaran berharga bagi kami para generasi muda yang mungkin memang semestinya harus mempersiapkan ini semua jauh-jauh hari sebelum sebuah kehidupan yang baru akan menjelang.

Mendapati satu lagi ilmu di malam itu bagai menyibak satu lagi tirai malam, yang mampu membuka arah pandang ini, hingga menemukan cahaya meski masih dikejauhan sana.

Sabda Nabi dalam sebuah riwayat, “Takutlah engkau kepada Allah SWT dalam urusan wanita. Sesungguhnya mereka adalah amanat di sisimu. Barang siapa tidak memerintahkan dan mengajarkan shalat kepada istrinya, berarti ia berkhianat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.” (Al-Hadis).

Malam semakin malam, riuh irama kota kini semakin lama semakin menyepi, meninggalkan hamba-hambanya yang masih merindu dalam kekhusu’annya beribadah dan meminta hanya pada Ia yang menguasai maha dalam segala ke-maha-annya.

Yaa Rabb, andai suatu hari Engaku-pun titipkan pada kami, seseorang yang akan menemani langkah ini, semoga Engkaupun sertakan pula kemampuan pada diri-diri ini untuk bisa membimbingnya, membinanya, menjadikan ia seseorang yang benar-benar shalihah bukan hanya dalam pandang mata ini, namun juga dalam pandang dihadapan-Mu, hingga kami bisa melangkah bersama menuju segala ridha-Mu.

Aamiin yaa robbal’alamiin

One thought on “Menyibak Satu Tirai Malam

  1. mariana silvania mengatakan:

    amiin ya Rabbal Alamiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s