Tersadar Atas Apa Yang Terlewat

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

Berbelok dari arah Bundaran Hotel Indonesia, memasuki kawasan Imam Bonjol di pusat Jakarta seakan memasuki kawasan ramah akan kehidupan. Suasana hijau masih terlihat dipinggirannya sana, meski tak jarang di beberapa bagian sudah berdiri bangunan-bangunan kokoh yang tinggi menjulang.

Dalam sebuah bis ber-cat putih, yang kini lajunya telah semakin kencang namun terkadang terpaksa harus di rem mendadak karena letak lampu merah yang begitu teramat dekat jaraknya dari satu perempatan ke perempatan lainnya, beberapa orang kini bergelantungan pada sebatang besi yang melintang diatas kepala mereka. Sesekali tubuh-tubuh mereka hampir terhempas, terguncang dan hampir terlepas dari kuat pegangannya.

Aku sendiri berdiri di dekat jendela sebelah bagian dekat pintu belakang. Menyaksikan Jakarta yang kini mulai kembali ramai dengan berbagai fose para calon pemimpin negeri. Aku tak jarang pula diajak untuk tersenyum kecut dalam hati, ketika menyaksikan semuanya itu.

Gerimis kini mulai membayangi malam. Entah berapa lama sudah Jakarta memang tak diguyur hujan. Aroma bau khas dari tanah lapang yang kini mengepul diantara rongga hidung mulai bergelayut mengiring perjalanan malam itu. Beberapa orang terlihat hilir mudik di pinggiran jalan sana.

Aku masih berusaha mencerna kata-kata ustadz siang itu. Tentang perumpamaan dari seorang yang berada pada satu situasi kebingungan teramat sangat karena menjalani kehidupannya. Ketika berbagai persoalan menjejali pikirannya, lengkap dengan berbagai permasalahan yang semakin pelik menambah ruwet bak benang kusut. Wallohu’alam, setidaknya kadang memang itu juga yang tak jarang aku atau kita rasakan bukan?.

“Bersihkanlah dulu kacanya, nanti juga jalan didepan mata akan kelihatan”, kata ustadz itu, ketika memperumpamakannya seseorang yang sedang dilanda dengan berbagai persoalan dalam hidupnya tadi bagaikan kondisi seorang sopir yang berada dalam lebatnya hujan.

Aku terhenyak kaget, ternyata memang benar, kadang kita hanya memikirkan untuk bagaimana agar bisa berupaya keras dengan segala cara untuk mencari jalan keluar dari persoalan kehidupan kita, tanpa kita sedikitpun mau mencoba melirik kedalam jiwa, bermuhasabah didalam diri, membersihkan hati serta memperbaiki semuanya atas diri kita agar tidak terhalang oleh begitu tebalnya debu-debu dosa yang ada didalamnya.

Aku menarik nafas panjang.

Betapapun kerasnya perjuangan kita, semua hanyalah bentuk ikhtiar semata. Segala keberhasilan darinya hanyalah Alloh yang layak menganugerahkannya kepada kita.

Gerimis kini perlahan melambat. Butir-butir airnya pun di kaca perlahan kini mulai menghilang lembali. Berganti dengan cahaya-cahaya dari beberapa sinaran di luar sana yang menyeruak. Aku melangkahkan kaki, menuruni anak tangga dari bis yang kini berhenti.

Yaa Rabb …
Ampuni kami yang begitu angkuhnya hingga dengan segala upaya mengejar segala keinginan agar bisa diraih.
Ampuni kami yang begitu sombongnya hingga dengan segala cara seakan memaksa agar segala harap dapat dicapai.
Tanpa kami sadari, tanpa mengerti akan kuasa-Mu yang memiliki Maha atas segala ke-Maha-an-Mu.

Yaa Rabb,
Mampukanlah diri ini untuk bisa membersihkan kembali hati ini, menata kembali dari semuanya, hingga kemudian engkau berikan kemampuan juga agar bisa menatap kedepan dalam kelengangan jalan keluar atas segala problema yang ada.

Yaa Rabb,
Kabulkanlah do’a kami …

Aamiin yaa robbal’alamiin

One thought on “Tersadar Atas Apa Yang Terlewat

  1. Ech@ mengatakan:

    Aamiin yaa robbal’alamiin…teruslah berubah untuk jadi lebih baik pak🙂 Gambatte!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s