Mengapa Mesti di Tanggal Itu?

https://i1.wp.com/radityadika.com/wp-content/uploads/2009/01/kj.jpeg

Sebuah catatan menuju Pemilu Legislatif 2009

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

Aku masih memandangi sebuah buku saku yang kini tergolek diatas telapak tanganku. Memandangi satu angka yang tertulis disana, serta beberapa baris kata-kata yang menghiasi lembaran-lembaran hingga kedalamnya.

Satu angka yang tertulis disana benar-benar telah membuatku seakan tak mengerti. Mengapa mesti di tanggal itu?

Di hari kesembilan di bulan April tahun ini, ketika rakyat Indonesia akan berada pada satu titik untuk satu periode yang diharapkan akan merubah bangsa ini untuk menuju kearah yang lebih baik, justru disanalah aku menyadarinya.

Hari itu tepat satu hari setelah delapan bulan dari bulan ke-delapan hari ke-delapan serta tahun ke-dua ribu delapan yang telah menjadi satu moment penting bagi satu partai dakwah ini. Satu moment penting yang telah mengantarkannya kini berada di nomor urut delapan dalam jajaran partai peserta Pemilihan Umum yang menjadi gelaran ajang demokrasi lima tahunan bangsa ini. Satu moment yang akan digunakan bangsa ini untuk kembali berusaha memperbaiki nasib untuk lima tahun berikutnya.

Satu hari berselang, ya … tepat satu hari. Apakah memang karena dihari itu Alloh akan menjadikan partai dakwah ini menjadi partai nomor satu dalam perolehan kepercayaan dari masyarakat? Wallahu’alam. Aku berdo’a untuk itu.

Aku membolak-balikkan lembar demi lembar didalam buku itu. Mataku kembali tercekat ketika membaca satu point yang menjadi point pertama sekaligus juga point utama dalam rangkaian butir-butir delapan amanah dalam rangka upaya pemenangan pemilu di tahun ini. “Meningkatkan taqorub pada Alloh dan meniatkan dengan penuh keikhlasan kepada Alloh semua amal dalam pemenangan pemilu 2009 sebagai ibadah jihad politik”. Subhanalloh …

Selanjutnya aku menemukan lagi tulisan yang tertulis disana diantaranya bahwa bukanlah untuk hanya semata mencari kekuasaan namun semua harus didasarkan atas dasar untuk pelayanan, bukanlah ketertarikan atas jabatan namun semua hanya didasarkan atas keikhlasan mengemban amanah yang telah dipercayakan oleh ratusan, ribuan, hingga jutaan masyarakat Indonesia yang telah lama mendambakan hadirnya keadilan dan kesejahteraan.

Kiranya tak berlebihan memang. Satu cita akan terwujudnya Indonesia yang islami bukanlah sesuatu yang mudah terukir seperti gores lukisan yang tergambar diatas kanvas, atau pula bukanlah seperti rangkaian kata-kata yang dengan mudahnya tertulis diatas kertas. Namun ada jalan panjang yang harus dilalui untuk menuju kepadanya, saudaraku.

Memang benar, seringkali dilema telah mengasingkan keberadaan kita dalam kancah perpolitikan. Ketika kita mencoba mengusung “bersih” sebagai slogan, maka beramai-ramai orang mengorek dan mencari serta dengan seakan bangganya memamerkan kesalahan kita untuk diumbar diberbagai media, meski semua itu belum jelas kebenarannya.

Ketika kita mengambil kata “peduli” juga sebagai slogan, mereka berlomba menghujat dan mencaci kita serta mengatakan bahwa ternyata apa yang telah kita lakukan tak lebih dari sekedar mencari perhatian serta sanjungan. Padahal bukan itu saudaraku. Bukan itu. Kami hanya ingin mereka mengikuti apa yang telah kami lakukan untuk bangsa ini. Kami ingin mereka tersadar akan kesombongan-kesombongan diri, mereka yang hanya memikirkan kepentingan-kepentingan pribadi, untuk segera kembali berorientasi pada bukti, bukan hanya sekedar janji yang tak pernah terbukti.

Kemudian sesaaat ketika kita mengambil kata “profesional”-pun sebagai satu panduan dalam menjalankan amanah yang telah ada. Ironis, bahwa ternyata jauhlah dari sebuah penghargaan yang juga memang tak pernah kami harapkan untuk kami dapatkan sesaat ketika keberhasilan satu demi satu telah kami raih untuk membangun kesejahteraan di atas bumi Indonesia ini. Namun mereka malah berebut dan saling bersikut untuk saling berlomba meng-klaim atas keberhasilan yang ada.

Aku masih termenung menatap semuanya. Kini bukan hanya sebuah buku saku itu yang telah berada di telapak tanganku. Namun gerak langkah partai dakwah ini yang semakin hari demi hari semakin saja Alloh dengan kasih dan sayangnya menempatkannya untuk berada pada tingkatan-tingkatan ujian yang semoga akan semakin membawanya kedalam keistiqamahan dalam mengemban risalah dakwah ini.

Semoga Alloh senantiasa membimbing kita dalam melangkah.
Semoga Alloh senantiasa menuntun kita dalam berjalan.
Semoga Alloh senantiasa merangkul kita dalam berjuang.
Demi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan.
InsyaAlloh …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s