Perahu Kertas

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Mereka masih berlari ditepian. Empat orang anak kecil dengan kaki-kaki telanjangnya masih berlomba, berlari dan mengejar perahu-perahu kertas yang baru saja mereka layarkan diantara alunan gelombang riak demi riak sungai itu. Tanpa peduli dengan apa yang mereka lewati, mereka terus berlari mengikuti kemana perahu-perahu  itu pergi. Terkadang sesekali mereka tertawa lepas sambil bercanda ria. Hingga ditepian batas mereka melabuhkan perahu kertas mereka disana. Lalu dengan segera tanpa komando mereka melompat kegirangan, menceburkan tubuh-tubuh mungil mereka ke sungai. Tawa-tawa mereka lepas, tanpa beban bahkan tanpa ada sedikitpun rasa gundah.

Riak sungai sore itu seakan ikut bergembira ditengah keriangan suasana senja. Alam raya menyambut ceria, sementara daun-daun masih menari mengiring nyanyian sepi. Semilir angin dari ujung utara mempermainkan ujung-ujung rambutku. Dimana mereka masih tertawa dan akupun tersenyum dibuatnya.

Serasa kembali ke beberapa tahun silam, dimana disaat-saat usia begitu indah mengurai satu kisah, yang tak akan pernah lekang dari dalam jiwa. Kebersamaan memang selalu mengantarkan pada satu catatan kisah kehidupan. Antara suka dan duka selalu mampu dirangkai menjadi satu, untuk kemudian dibalut dalam satu balutan sejarah.

“Hhhmmm ….”
Aku menarik nafas …
Dalam hati ku berlafadz sebuah do’a, semoga kebersamaan mereka menjadi sebuah tali pengikat akan kebersamaan yang tidak akan pernah lengkang oleh masa hingga kelak di akhirat, dalam menikmati jamuan-jamuan surga-Nya.

Aku menolehkan pandangku kesekeliling tempat ini. Tak ada lagi mereka disini. Mereka yang beberapa tahun silam masih bersama bergembira mengalunkan tembang-tembang kisah kehidupan, diiringi dengan canda dan ceria.

Andaikan mampu kita menawar dan meminta untuk tak pernah berpisah dengan mereka orang-orang terdekat kita, mungkin berkali bahkan beratus kali kita akan selalu dan selalu memohonkannya. Namun itu sepertinya bukan menjadi sebuah jaminan andaikan taqdir telah menjadikannya lain dari harapan. Karena meskipun berawal dari hal yang sama, maka titik akhir darinya tidak akan pernah selalu sama. Seperti halnya perahu-perahu kertas yang tadi berlayar berawal dari titik yang sama, kemudian ketika mereka mengarungi diantara riak sungai itu, pada akhirnya mungkin akan berbeda. Ada yang lebih dulu, ada yang sampai belakangan. Ada yang sampai ditepian, bahkan mungkin ada pula yang tenggelam ditengan perjalanan. Begitulah kiranya kehidupan.

Tidak pernah ada satu penjamin akan kelanggengan sebuah kebersamaan, terkecuali jika kita berada dalam naungan rahmat, ridha dan kasih sayang-Nya. Berada dalam balutan mesra Ia yang penuh dengan keagungan, yang mampu menjadikan segala yang tidak akan pernah mungkin menjadikannya mungkin terjadi.

Dan semua itu tentunya tidak akan pernah bisa digapai, ketika kita tidak pernah memohon dan meminta serta berusaha untuk mendapatkannya.

Adalah mereka yang senantiasa berbagi, adalah mereka yang senantiasa mengingatkan saudara-saudaranya dalam meniti langkah, tentunya menjadi pembuka kesempatan untuk mampu meraih kebersamaan hingga nanti di akhirat kelak, ketika menikmati jamuan-jamuan keindahan serta kemulian ciptaaan Alloh dalam surga-Nya. Hingga kemudian dengan berlandas pada rasa saling mencintai dan menghargai antara satu dengan yang lainnya hanya karena satu alasan semata, hanya karena Ia dzat yang maha satu.

“Laa tadkhulul jannata hatta tu’minuu walaa tu’minuu hattaa tahabbuu …” (HR Muslim, Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencintai…”, begitu indah sebuah sabda ia Muhammad SAW sang penebar risalah Alloh, ketika mengingatkan kita hambanya untuk senantiasa saling mencinta, saling mengerti hingga saling memahami antara satu dengan yang lainnya.

Semoga kita menjadi bagian dari mereka yang senantiasa menebar ukhuwah hingga merajutnya beraneka keragaman menjadi satu dalam ikat kebersamaan, yang nantinya mengantarkan kita pada ia kebersamaan yang hakiki.

Aamiin yaa Robbal’alamiin …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s