Hanya Ia Yang Setia

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Ini memang untuk yang kesekian kalinya aku melewati jalanan itu disaat malam menjelang ke sepertiga terakhirnya. Sudah tidak banyak aku jumpai orang-orang yang biasanya lalu lalang disekitar sana. Hanya ada beberapa saja yang mungkin mereka berada dalam kondisi yang tidak jauh berbeda denganku akhir-akhir ini. Dimana antara tuntutan tugas dan amanah sepertinya posisinya sudah semakin jauh lebih membumbung tinggi dibandingkan dengan saat-saat senggang.

Satu persatu lampu-lampu di taman kota kini mulai mati, biasanya memang hanya tinggal beberapa lampu saja yang menyala hingga pagi nanti. Sementara itu, kerikil jalanan masih setia menemani langkah ini, meski kadang mereka mesti melompat dan berlari karena terseret langkahku yang sudah semakin tak tentu.

Dikejauhan sana dua orang pemuda sedang asyik berbincang, sepertinya memang mereka sedang membahas sesuatu, hingga saking asyiknya sampai mereka mampu bertahan hingga di kala dini hari menjelang seperti ini. Semakin lama semakin aku mendekat ke arah mereka. Tidak lebih dari dua puluh tahunan pikirku menebak usia mereka. Seorang dari mereka dengan seriusnya bercerita, sementara yang satu lagi memperhatikannya sambil sesekali mengomentarinya.

Aku hanya tersenyum dalam hati.

“Alangkah indahnya, andaikan kita memiliki mereka yang bisa mendengarkan segala keluh kita, kapanpun itu …”, gumamku saat itu.

Itukah arti kesetiaan dalam persahabatan?
Aku kira bukan, karena diakui ataupun tidak, kadang seorang sahabatpun satu waktu akan berada di posisi jenuh dengan segala keluh dan kesah kita. Mungkin ketika kita bercerita tentang masalah kita, siapa tahu diapun memiliki masalah yang sama atau bahkan lebih berat dari apa yang kita hadapi. Hingga iapun tak mampu memberikan atas apa yang kita harapkan didapat darinya.

Aku terdiam sejenak merenungkan semuanya. Malam terasa semakin sepi. Dingin seakan menyelimuti diri. Sementara suara binatang malampun seakan menghilang. Hening …
Aku menarik nafas panjang.

Kini aku semakin mengerti, ternyata memang semestinya tak ada lagi yang perlu diragukan dari-Nya. Hanya Ia yang maha santun dengan segala rahmat dan kasih sayangnya, akan senantiasa setia menerima segala keluh serta kesah para hamba-Nya. Tak ada dan tak akan pernah ada yang lain.

Perlahan aku kembali merenungi kembali ayat-ayat-Nya yang telah ia perkenankan untuk menjadi petunjuk diri ini. Merenungi satu makna akan sebuah janji dari-Nya, memaknai satu kepastian akan keberadaanya yang sungguh amat teramat dekat dengan diri ini. Ya Rabb, ampuni diri ini, yang ternyata begitu mudah untuk menyangsikan atas segala kuasa-Mu …

“Wa’idzaa sa alaka ‘ibaadii ‘annii fa’innii qoriibun ujiibu da’watad dai’i idzaa da’an …”

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang berdo’a kepadaKu …”.

Ada tetes kesejukkan yang terasa seakan menelusup kedalam diri ini, ketika mencoba kembali merenungi ayat ke 186 di Surat Al-Baqarah itu.

Tidak jarang kita selalu merasa bingung ketika menghadapi sesuatu hal yang seakan menyudutkan atas posisi kita. Hingga akhirnya kita serasa begitu sulit mencari dan begitu sibuk bertanya, kepada siapa harus mengadukan segalanya? Percayalah, tak akan ada yang bisa menjamin siapapun mahluknya yang akan senantiasa mengerti akan diri ini, siapapun dia. Karena, memang ternyata benar, dalam masing-masing diri ini selalu ada keegoan diri yang seringkali telah membatasi akan makna kesetiaan antara kita dengan orang lain.

Hanya satu makna penghambaan yang bisa menjawab tanya itu. Penghambaan antara seorang hamba denga Ia yang maha segalanya. Yang akan mampu menjadikan satu solusi untuk menjembatani diri hingga kita mampu setiap saat setiap waktu mengadukan segala hal yang ada. Tanpa batasan masa.

Namun memang, ada syarat untuk kita ketika mengharap akan keberadaan kita agar selalu bersama-Nya. Hingga hidup ini terasa indah dalam naungan rahmat dan kasih sayang-Nya. Adalah sebuah lanjutan dari ayat yang tadi.

” … maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

Wallahu’alam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s