Do’a Sang Malaikat

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Pelataran putih serta hamparan karpet beludru yang menutupi hampir seluruh bagian masjid masih terlihat agak lengang dari biasanya. Adzan dzuhur memang masih sekitar empat puluh lima menit lagi baru akan berkumandang. Ada beberapa orang yang sudah duduk bersila di beberapa bagian teras masjid. Aku mengelilingkan pandangku saat itu.

Sambil menuntun langkah keponakanku, aku melangkah memasuki ruangan utama masjid itu. Alhamdulillah, masih ada waktu untuk kami tunaikan tahiyatul masjid. Hembusan angin perlahan menelusup ke pundak mengiringi takbir. Sejuknya suasana memang selalu hadir dalam setiap keberadaan di bumi Alloh ini. Kapanpun, dimanapun, ia selalu tampil dengan segala keteduhan serta kenyamanan bagi siapapun para hamba-Nya yang mengharapkan ridho dari-Nya.

Seusai salam, aku tersenyum melihat tingkah keponakanku yang sepertinya memang masih sulit mengikuti gerakan sholat kami untuk lebih sempurna. Dia lalu segera mengubah cara duduknya dan kemudian bersila disampingku.

Sekitar lima menit suasana masih hening. Matahari perlahan merangkak ke atas pusat dunia. Menyemburatkan sinarnya hingga seakan menusuk-nusuk diatas kepala. Beberapa orang masih berdatangan saat itu. Hingga tak lama kemudian, keponakanku berbisik minta uang. Jujur saat itu aku agak heran.

“Buat apa?”, tanyaku
Ia hanya tersenyum, lalu kemudian menunjuk sebuah kotak yang ada di sudut masjid itu, yang biasanya pada saatnya nanti akan dipindah bergilir menyusuri barisan-barisan shaf para jamaah.

“Oooo….”, aku mengerti sambil kemudian tersenyum kearahnya.
Rupanya hari ini dia lupa meminta uang ke ibunya untuk mengisi kotak amal masjid itu. Biasanya memang setiap dia pergi ke masjid, dia dibekali uang untuk dia masukkan di kotak amal itu.

Aku tersenyum dalam hati, semestinya memang aku malu. Bukankah shodaqoh itu akan menolong kita dari murka Alloh dan menghindarkan diri dari kematian su’ul khotimah?. Tapi, mengapa selalu lupa untuk membiasakan diri ini menjalankan satu tuntunan syariat itu?

“Hhhhhhhhhh …”
Aku membuang nafas panjang. Ada rasa berat dan menyesal mengiringinya. Ada ketakutan yang hebat meliputi daripadanya.

Bayangku seketika menjelma, teringat akan risalah ia sang Rasul Alloh, ketika menyampaikan bahwa setiap pagi akan datang dua malaikat yang menyeru kepada manusia dan berdo’a kepada Alloh SWT.

Mereka berseru untuk mengingatkan kita agar bersedekahlah setiap pagi dari harta kita meskipun sedikit daripada lupa.

“Tiada matahari masih menyinari bumi melainkan ada dua malaikat. Masing-masing menyeru manusia dan berdoa, ‘ Wahai manusia, bergegaslah menuju Tuhanmu sedikitnya harta tapi mencukupi lebih baik daripada banyak tapi kau lupa …”

Kemudian yang lainnya berdo’a, “… Wahai Allah, berikan ganti harta kepada mereka yang bederma dan bagi si kikir segera binasakan saja hartanya”. (Dikutip dari HR. Abu Darda)

Ya Rabb …
Aku menundukkan kepalaku. Andaikan tak ada maha rahman dan rahim-Mu, tentunya sudah Engkau perkenankan do’a dari para malaikat-Mu. Menggantikan harta pada mereka yang senantiasa berderma dan membinasakannya harta-harta yang telah sebelumnya Engkau titipkan pada kami yang senantiasa lupa berbagi kepada sesama. Namun apa yang terjadi, Allah ternyata lebih banyak menggantikan bahkan hingga melipat gandakan harta kita ketika kita berbagi kepada sesama. Namun, Ia sebaliknya lebih sering menangguhkan untuk membinasakan seluruh harta kita ketika kita lupa bahkan melupakan segalanya.

Naifnya, kita seakan tak pernah merasa dosa, kita seakan tak pernah merasa resah akan semuanya. Bahkan tak pernah ada rasa menyesal dalam hidup kita ketika melewati hari demi hari yang hampa tanpa berusaha untuk meluangkan waktu sejenak, merogoh kantong baju kita, dan meniatkannya untuk hanya mengharap ridha-Nya.

Padahal, andaikan kita mencoba menelusuri kasih sayang Alloh pada hamba-hamba-Nya. Ternyata banyak barokah yang Ia titipkan, yang Ia hadirkan dalam hidup hamba-hamba yang senantiasa berusaha untuk istiqamah menunaikan satu amalan ini. Bukan hanya Ia sang Rasul Alloh saja, bukan hanya mereka para sahabat saja, bukan hanya mereka para alim ulama saja, namun janji ini Alloh pertunjukkan untuk kita semua, yang telah Ia berikan kepercayaan untuk mengarungi hamparan berjuta amalan di dunia ini.

Wallahu’alam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s