Dalam Rinai Hujan

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Hujan masih belum berhenti, titik-titik air kini menjelma seakan butiran-butiran kristal yang menghiasi hamparan dunia. Ia kembali datang setelah hampir beberapa pekan lamanya ia tak kunjung tiba. Matahari pagi entah dimana kini ia bersembunyi, sejak shubuh tadi memang ibu kota diselimuti oleh dinginnya suasana. Embun yang biasanya tersipu dan dengan cepat berlalu, berganti karena hangatnya suasana, kini bertengger kokoh di kedinginan cakrawala.

Dari balik jendela, aku melepaskan pandang jauh ke arah sana, arah dimana sebuah tanah lapang terhampar di ujung sana. Beberapa anak kecil masih dengan asyiknya berlari, dan mengejar sebuah bola putih yang kini telah bercampur dengan coklatnya tanah lapang.

Sesekali masih terdengar olehku, sorak sorai mereka ketika berhasil measukkan bola tersebut ke gawang lapang. Mereka tersenyum, dan akupun tersenyum.

Tanah-tanah itu kini berganti basah, setelah dengan rengkuhnya meneguk tetes-tetes air hujan. Bagaikan iringan -iringan kafilah yang kehausan ditengah padang sahara, kemudian menemukan sebuah mata air yang memancar dan kemudian mempersembahkan kesegaran bagi jiwa-jiwa yang dahaga.

Ingatanku memutar ulang pada masa itu, masa dimana aku berada diantara mereka yang juga sedang berada dalam dahaga serta kehausan dalam menantikan kesejukan iman. Saat itu, ta’lim-ta’lim di pelbagai majelis menjadi bagian dari untaian agenda mingguan kami.

Masih terdengar jelas ditelingaku saat itu, ketika seorang lelaki setengah baya dengan sorban putihnya yang melingkar diatas kepalanya, serta dibalut dengan pakaian serba putih pula membungkus hampir seluruh tubuhnya berujar pada kami.

“Lihatlah tanah itu, begitu kering dan kerontang, menantikan hujan yang entah kapan akan datang. Mereka bagaikan jiwa-jiwa muda dari hamparan ummat ini, yang kini bertebar diseluruh jagat raya, menantikan guyuran-guyuran serta beningnya cahaya islam, yang akan menjadikan mereka kembali merasakan kesejukan iman”, ucapnya saat itu.

Sejenak ia menarik nafas panjang. Sementara kami hanya terdiam saat itu.

“Ketika nanti hujan itu telah tiba, dengan segera tanah-tanah itu mereguknya dalam suka cita, lalu … sesaat kemudian tanah itu menjadi kembali sejuk dan daripadanya tumbuh subur berbagai macam karunia Alloh. Begitulah kiranya pula ummat yang mau menerima apa yang disampaikan Alloh dalam wahyu-wahyu-Nya melalui para rasul-Nya”.

“Namun, coba antum lihat kesebelah sana, dimana hamparan tembok kini telah menutupi sebagian tanah lapang disebelah sana”, katanya sambil menunjuk jauh arah sebelah kiri tempat kami sekarang berada.

“Andaikan hujan datang, dan membasahinya, maka dengan angkuhnya tembok-tembok itu menepis keberadaanya, membiarkan tetes-tetes air hujan tersebut pergi dan berlalu dengan hampa. Tak berbekas, dan tak pula sanggup membasahinya hingga memberikan kesejukan daripadanya. Apalagi sampai membuatnya subur dan tumbuh bermacam karunia Alloh padanya”, lanjutnya panjang lebar.

Kami hanya tertunduk malu saat itu, meresapi satu persatu untai kata-nya yang seakan menyadarkan kami atas segala kealfaan diri selama ini. Begitu sering kami melalaikan segala peringatan dar-Nya, yang ia sampaikan dalam lembaran surat-surat cintanya, yang Ia tuangkan dalam mushaf suci-Nya. Kami kadang justru merasa lebih asyik dengan karya-karya sastra para pujangga, yang padahal tak sedikitpun mereka memiliki satu kuasa jika Alloh tak berikan satu bekal dan karunia ilmu kepadanya.

Kadang kemodernan zaman memang begitu tamaknya membentengi diri-diri ini, lalu merengkuh dan menambah keangkuhan daripada diri kita, menganggap kita telah meraih segalanya. Seperti halnya lapisan tembok yang kini melapisi sebagian tanah lapang itu. Indah, namun ternyata begitu sombongnya menerima untaian kuasa-Nya, seperti pula seorang diri yang begitu sulit untuk meyakini tanda-tanda kebesaran Illahi. Padahal, dibalik benteng-benteng kemodernan zaman tersebut, jiwa-jiwa kita yang hampa serta gersang masih menantikan guyuran-guyuran kesejukan islam, yang dapat mengembalikan jiwa-jiwa kita menjadi bagian dari jiwa-jiwa para hamba yang muthmainnah. Hamba-hamba yang Alloh persilakan untuk nanti bersama dengan mereka para ahli ibadah kepada-Nya, hamba-hamba yang Alloh persilakan untuk jika kembali hanya kepada pangkuan-Nya, serta hamba-hamba yang Alloh persilakan untuk dapat menikmati keindahan dalam surga-Nya. InsyaAlloh …

Wallahu’alam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s