Berlomba Mendulang Pahala!

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Hari memang masih terlalu pagi. Jarum jam baru bertambat diangka tiga dini hari. Namun suasana di luar sana sudah mulai riuh oleh berbagai aktifitas para tetangga. Disebelah dua kamar mandi yang tersedia sudah mulai berderet  antrian dari mereka. Sementara aku yang alhamdulillah bisa terbangun lebih dulu dari mereka hanya bisa menohok dan terpaku saat itu.

Semilir angin dingin ternyata kini mulai berubah seiring dengan hangatnya nuansa. Sejenak sayup terdengar alunan-alunan suci dari mushola yang ternyata harus berlomba dengan deru beberapa kendaraan yang mungkin sudah mulai menghiasi kembali keramaian ibu kota. Tidak seperti di kampung dulu, dimana saat-saat itu biasanya orang lebih asyik bercengkrama dalam pertemuan dengan-Nya, Rabb sang maha kuasa, disini ternyata orang-orang malah lebih disibukkan oleh segudang aktifitas dan berbagai rencana yang akan dilaluinya dalam satu harinya.

Usai sholat shubuh, halte-halte bis sudah mulai terisi, di shelter-shelter busway sudah terdapat banyak juga antrian panjang, sementara itu lalu lalang berbagai kendaraan, udara yang kian memanas, mentari pagi yang sering kali terlalu sulit untuk tersenyum ramah, kini mulai memenuhi halaman pertama di satu bagian kisah setiap orang. Sesekali mereka melirik ke arah jam tangan yang mereka lilitkan ditangannya, sambil kemudian melongo kearah kanan memastikan kendaraan yang mereka tunggu muncul di kejauhan sana.

Seorang pak tua yang baru saja selesai wirid selepas shubuh tadi keluar dari teras masjid, lalu ia berdiri, untuk kemudian menggelengkan kepalanya setelah memandang sekilas ke arah kami. Entahlah, rasanya ada yang menusuk kedalam dada ini …

Sebuah bis tiba, beberapa orang yang tidak sabar segera menghambur ke arahnya. Tidak sedikit orang-orang yang rela berdiri didalamnya, berjejal dan berlomba menghirup sisa-sisa oksigen yang mungkin semakin sedikit saja yang tersisa.

Sesampai di tempat kerja, ternyata lebih dahsyat lagi. Berperang dengan konsentrasi dan cepatnya waktu, kita seakan berada dalam satu dimensi yang tak pernah berakhir. Satu dimensi yang selalu berputar-putar dalam satu gerak yang sama.

Selalu saja begitu, dari hari ke hari persaingan semakin memposisikan diri kita untuk merasa sulit untuk hanya keluar daripadanya. Bagai satu cengkraman sang raja hutan, yang tak mungkin lagi bisa terlepas sempurna. Kita hanya mampu berkilah, bahwa semua itu hanya demi sebuah upaya dalam mempertahankan hidup.

Berpikir, andaikan semua itu juga berlaku dalam satu sisi keimanan kita. Dimana perjuangan mengumandangkan kalimah-kalimah thayibah serta perjuangan menegakkan panji-panji Islam. Subhanalloh …

“Fastabiqul khairaat …!!!”, berkali-kali sang Rasul berpesan pada kita.

Sebuah panggilan suci untuk berlomba-lomba dalam menegakkan kebaikan, berlomba-lomba dalam mencegah kemungkaran, serta belomba-lomba dalam mendulang pahalanya dari ia sang maha kaya.

Sejenak bibir ini terasa kelu. Sebuah gundah segera menggelora dalam dada. Mengungkapkan tanya, mengapa kita bisa bersaing dalam menggapai sisi duniawi?, sementara beribu, berpuluh ribu, beratus ribu bahkan berjuta pintu untuk bersaing dalam kebaikan telah terbuka lebar dihadapan mata.

Mungkin memang ternyata kita terlalu sering terlupa. Berbuat sempurna untuk berbagai hal yang berhubungan dengan keduniawian kita, tapi jarang atau mungkin tidak pernah sama sekali berbuat maksimal untuk bekal akhirat kita. Mengorbankan setiap tetes keringat dan semangat untuk meraih kesuksesan meniti karir. Namun selalu berpikir dua kali ketika sebuah gerbang kebaikan telah menganga. Padahal insyaAlloh jikalah Ia berkehendak, bukankah dengan izin-Nya niscaya hanya dengan satu katapun, Ia mampu mewujudkan segala kesuksesan diri ini, baik untuk dunia maupun akhiratnya pula?.

Namun, terlepas dari itu semua. Semoga apapun yang telah kita perbuat dalam hidup ini, sebuah niat suci serta tulus ikhlas hanya berharap akan rahmat dan ridha-Nya, semoga pula mengantarkan diri, bukan hanya sebagai pesaing sejati dalam mengarungi kehidupan dunia ini, namun pula seorang pejuang tangguh untuk meraih rahmat dan cinta kasih-Nya. Sehingga kita termasuk satu diantara mereka, hamba-hamba yang kekal dalam surga-Nya.

Aamiin yaa robbal’alamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s