Berbekal Sempurna!

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

Bismilllaahirrahmaanirrahiim,

Memang, hampir selalu tak pernah ada rasa tak tenang jika kita berada bersama dengan orang-orang yang selalu tak lupa dengan berbagai perbekalan, dimanapun mereka berada. Kapanpun itu. Bahkan andaikan dalam sebuah perjalanan panjang dan melelahkan sekalipun, jika kita berada bersama dengan mereka, maka jarang kita menemukan kesulitan atas beberapa kebutuhan pribadi kita yang terkadang justru malah diri kita sendiri yang terlupa.

Seperti pula saat itu.

Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan telah mengantarkan kami menemui satu babak episode kesyukuran atas segala rahmat dan karunia ciptaan-Nya. Hingga membawa diri ini pada decak kagum serta urai tasbih akan ke-mahaan-Nya.

Hamparan indah alam raya, berbalut sejuknya nuansa pegunungan telah mengurai satu persatu resah dalam dada ini. Betapa tidak, eloknya suasana telah mampu melepas satu demi satu beban yang selama ini seakan senantiasa hadir dan membuntuti dalam urai kisah kehidupan. Hingga kemudian beban-beban itu perlahan hilang dan bahkan menjadikan diri ini terasa kembali dalam suasana bening hati. Alhamdulillah …

Sebuah pertemuan yang digelar meskipun sederhana namun tetap enak untuk kami nikmati. Beberapa rangkai acara berjalan sesuai dengan rencana. Hingga saatnya dalam satu kesempatan yang ada ternyata kami terlupa akan satu perbekalan yang justru sedikitpun tak pernah kami teringat sebelumnya.

Saat itu kami sempat bingung. Namun, alhamdulillah ternyata salah seorang diantara kami telah menyiapkan bekal tersebut, meskipun memang pada mulanya itu ia tujukan untuk bekal dia pribadi, namun ternyata bermanfaat juga bagi orang lain. Dia memang seorang yang terlalu apik dalam menyiapkan segala sesuatu. Hampir dalam setiap kesempatan ia selalu hadir dengan berbagai antisipasi perbekalan jika diantara kami ada yang terlupa tidak membawanya.

Akhirnya acarapun bisa berlangsung kembali dan terlaksana hingga ke penghujungnya. Mengalir seperti air sungai yang mengalir, dan berakhir hingga sampai ditepian muara akhirnya.

Ada hal yang menarik ketika aku sendiri menyadari semuanya. Ketika keberadaan kita bersama dengan mereka yang selalu siap sedia dengan perbekalan yang sempurna, ternyata bisa menjadikan satu hal yang tadinya aku kira tak akan lagi bisa berlanjut terlaksana menjadi tetap berada sesuai dengan alur rencana.

Ya, mereka yang selalu berbekal sempurna!

Sesaat kemudian aku sendiri merasa malu, ketika mencoba mentafakuri atas apa yang menimpa diri ini. Menimpa raga ini. Menimpa jiwa ini yang telah Alloh amanahi satu usia untuk melaksanakan satu kisah perjalanan panjang menuju akhirat-Nya.

Ternyata, betapa banyak bekal kita yang terlupa untuk kita bawa, ternyata betapa banyak pula dalam sisa-sisa usia kita melalaikan semuanya. Seakan diri telah siap sedia dengan segala yag telah ada. Hingga terlalu angkuh dan penuh percaya diri untuk menapak kehidupan di alam sana.

Kondisinya adalah mungkin kita tidak atau belum menyadari sepenuhnya, bahwa saatnya nanti kita akan sendiri-sendiri. Terkadang kebiasaan kita dengan terlalu bergantung pada orang lain telah menjadikan diri terlupa dengan kesiapan diri pribadi. Padahal, andaikan kita mau sedikit bermuhasabah diri. Andaikan kita mau sedikit mengingat kembali. Bahwa saat kelak di dunia kekal kehidupan kita yang sebenarnya, akhirat nanti, tak akan ada lagi pengertian dan perhatian diantara kita. Semua akan amat sangat bergantung atas apa yang telah kita persiapkan sendiri jauh-jauh hari ketika kita masih di dunia fana sekarang ini.

Bukankah Nuh sang Rasul Alloh-pun tak akan bisa merangkul anaknya untuk bersama dalam surga-Nya? Bukankah Luth sang Nabi Alloh-pun tak pula bisa memapah istrinya menuju kenikmatan jamuan Alloh dalam surga-Nya?

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita masih berharap belas kasih dan kesiapan perbekalan orang-orang shaleh disekitar kita, tanpa sedikitpun kita mempersiapkannya untuk diri kita sendiri?

Karena itulah, karena disaat itulah nanti tak seorangpun diantara kita untuk dapat lagi saling membantu, untuk dapat saling memberi. Tak bisa. Semua hanya bergantung pada amalan masing-masing diri ini.

Selagi masih ada usia, semoga kita masih bisa mempersiapkan kembali segala hal perbekalan untuk menuju kehidupan kekal di akhirat sana. Hingga nanti tak ada rasa sesal atas semua yang terasa teramat cepat berlalu.

Ya Rabb, bimbinglah kami ini untuk bisa berbekal sempurna, untuk kehidupan dunia dan akhirat kami nanti …
Aamiin yaa robbal’alamiin …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s