Ternyata Kita Terlalu Mudah Terlupa

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

Bismillaahirrahmaanirrahimm,

Tiba-tiba ponsel ini berdering. Tidak tertera nama dalam screen-nya, nomornya-pun tidak dikenal. Aku angkat, lalu sebuah suara mengucap salam dikejauhan sana. Aku masih tertegun setelah sesaat kemudian menjawab ucapan salamnya. Subhanalloh, ternyata seorang sahabat lama yang entah sudah berapa lama tak pernah ada lagi kabar berita, bahkan terlalu sulit pula untuk aku hubungi, kini telah kembali untuk menghulur tali silaturahim ini.

“Alhamdulillah ..”, gumamku saat itu.

Sesaat kemudian aku tersenyum jika mengingat semua itu. Mengingat semua yang telah menjadikan tali silaturahim itu sempat menjauh bahkan hampir terputus. Hanya karena sebuah ego. Ego yang telah merebut akal sehat dari masing-masing diri ini. Ego yang telah bertambat dan berdiri angkuh diatas sejuta nafsu. Ego yang hingga lama berselang waktu telah mengekang diri ini dalam kesunyian dan kehampaan satu ikatan yang dulu pernah ada. Yaa Rabb, ampunilah kami …

Kami yang telah terlena dengan satu pandangan sebelah mata. Yang telah begitu mudahnya melupakan segala kebaikan yang ada. Bahkan begitu mudahnya pula menggantinya dengan menjulangkan segala keburukan atas diri-diri mereka untuk kemudian merajai hati ini, dan mengganti semua rasa persaudaraan yang ada menjadi sebuah rasa dan benci. Naudzubillaah.

Memang, ternyata kita terlalu mudah terlupa. Terlupa akan segala kebaikan yang telah dilakukan orang lain untuk kita. Bahkan sedihnya adalah ternyata kita justru lebih sering mengingat sikap buruk mereka daripadanya.

Ini sepertinya memang berbalik 180 derajat dengan apa yang ada dalam diri ini. Dimana justru ternyata kita akan lebih menjulangkan rasa tinggi hati atas segala amal kebaikan yang kita lakukan pada mereka, tanpa sedikitpun mencoba mengingat betapa banyak sebenarnya sikap buruk yang mungkin secara sengaja ataupun tidak ternyata telah kita persembahkan pada mereka.

“Hmm……”
Aku menarik nafas panjang.

Sesaat kemudian teringat cerita negeri ini. Berkaca dari kisah dan belajar dari sejarah. Dimana hampir setiap kali tumpu kekuasaan berakhir, selalu saja diakhiri dengan satu akhir yang tak sempurna. Tak ada akhir yang indah daripadanya. Yang ada hanyalah kebencian-kebencian, yang ada hanyalah kekecewaan, bahkan pula yang ada hanyalah hujatan atas segala keburukan daripadanya. Berapa banyakpun jasa-jasa mereka para pendahulu negeri ini, selalu akan berakhir dan berlalu serta berganti dengan satu rasa benci. Yang anehnya rasa itu sepertinya tak pernah lengkang dari sejarah. Seperti terpatri dalam setiap diri anak negeri.

“Bukankah itu tak jauh beda dengan kondisi diri ini?”

Kita seolah larut dan dengan segera berhambur mengubur segala kebaikan daripada mereka yang padahal mungkin telah lebih banyak berbuat bagi diri ini, hanya karena satu ataupun dua keburukan yang ada padanya. Kita seolah mengunci mati hati ini ketika satu kecewa telah membuncah dalam dada. Kita seolah berhenti dan tak pernah mau melangkah lagi menapak hari-hari bahkan meskipun hanya untuk menjunjung satu asa manusiawi dalam diri ini.

Bukankah ini tak adil? Bukankah tak sepatutnya jika kita hanya memandang sebelah mata atas apa yang ada? Bukankah ini semua hanya akan mengantarkan kita pada satu ke-ego-an diri yang semakin menjadi? Dan kita baru tersadar setelah sekian lama nanti, dimana sementara itu tak satupun setan yang tak tertawa terbahak serta riuh bertepuk tangan atas segala kelalaian diri.

Mungkin kini saatnya kita berbenah diri, berbenah hati. Mencoba lebih banyak mengingat kebaikan orang lain daripada kebaikan yang kita lakukan, serta lebih banyak mengingat keburukan kita daripada keburukan orang lain sebagai introspeksi diri.

Wallahu’alam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s