Selagi belum dewasa !

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Gerimis memulai hari di pagi ini. Awan hitam menggelayut diantara bentangan luasnya mayapada. Semilir angin lembut menghempas butiran-butiran halus titik air hujan menyapa wajah. Matahari pagi tersipu malu sembunyi dibalik kesunyian hari.

Langkah-langkah dan hentakkan kaki membawa diri menelusuri satu demi satu jejak langkah.

Seorang bapak dengan tekunnya memilah satu demi satu tanaman hijau yang menghiasi taman itu. Gerak tangannya seolah tidak asing lagi untuk memilih tanaman mana yang mesti dicabut, atau tanaman mana yang mesti dibiarkan tetap tumbuh menghiasi hari-hari dan suasana hati kami yang terbiasa melewati taman itu.

Sebuah tonggak ia pancangkan di tepi sebuah pohon kecil disudut sana. Kemudian sebuah tali ia ikatkan melilit batang kecil pohon itu untuk kemudian ia ikatkan pula pada tonggak yang telah terpancang tadi.

“Pagi pak”, sapaku
“Eh …, pagi mas”, jawabnya sambil tak lupa menyunggingkan senyumnya.

Ramah, dan tak pernah terlewat menjawab setiap sapaan orang-orang yang menyapanya. Meskipun terkadang ia tetap harus sibuk mengurusi tanaman-tanamannya, namun ia selalu sempatkan untuk tidak mengecewakan orang-orang yang menyapanya dengan menolehkan muka, menjawab sapa dan menyunggingkan senyuman.

“Kok pohonnya diikat pak?”
“Iya nih mas, pohonnya bandel, disuruh lurus malah bengkok”
“Wah bapak bisa saja … ”
Sesaat kemudian kami berdua tertawa.
“Selagi masih bisa dibuat lurus, makanya saya coba ikat mas”, lanjutnya

Aku hanya tersenyum, sepertinya sederhana namun ternyata apa yang ia katakan penuh makna.

Teringat, satu waktu aku pernah memperhatikan seorang bocah laki-laki berusia tak lebih dari tiga tahunan. Gayanya tak jauh berbeda dengan seseorang yang saat itu ada disampingnya, aku kira ia mungkin bapaknya. Berambut ikal namun dicat agak keemasan. Tingkah polahnya-pun tak jauh berbeda, berlagak seorang preman dengan lengan baju digulung sampai di atas sikut tangannya, serta kedua tangan diselipkan dipinggangnya.

Yang lebih miris adalah ketika aku harus rela sesekali mendengar dari bibir manisnya keluar umpatan-umpatan kasar yang tidak sama sekali pantas diucapkan.

Dari sana aku mengerti, bahwa apa yang kita inginkan dan kita harap dari generasi penerus kita adalah tergantung dari apa yang kita contohkan pula pada mereka, tergantung dari apa yang kita tanamkan pada mereka, bahkan pula tergantung dari apa yang kita ikatkan dalam diri-diri mereka.

Baik ataupun buruk sikap atau kepribadian mereka akan sangat bergantung kepada didikkan kita ketika mereka masih berada dalam satu masa pertumbuhan atau bahkan jauh sebelum itu. Bukankah seorang ibu yang menginginkan anaknya hafal Al Qur’an pun, biasanya pula berusaha menghafal al Qur’an pula ketika sedang mengandung janinnya?

Sampai ketika jiwa-jiwa itu mulai tumbuh, dan hari-hari mulai menghiasi kehidupan mereka generasi kita. Sentuhan, belaian, serta kasih sayang kita dalam menuntun kisah hari-hari mereka akan sangat mereka perlukan.

Dan andaikan semua itu sudah berlalu. Dan baru kita sadari ketika mereka sudah terlalu sulit lagi untuk kita bimbing menjalani hari-harinya lagi, seperti halnya batang pohon yang sudah teralu tinggi dan membengkok yang sulit untuk kita jadikan lurus kembali, jangan seutuhnya dan sepenuhnya kita salahkan mereka. Apalagi kemudian kita hanya mampu berdiri dengan wajah tanpa dosa mengangkat bahu serta kedua belah tangan kita.

Mungkin sebuah renungan buat kita, “Apa yang dapat kita berikan untuk mereka, selagi mereka belum dewasa?”

Wallah’alam bish-shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s