Aku malu…

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Menikmati sejuknya udara dari pancaran Air Conditioner ditengah teriknya matahari kota metropolitan memang menjadi idaman banyak orang. Tidak terkecuali bagiku.

Udara yang panas menyengat, hampir membakar seluruh kulit hingga menjadikannya semakin hitam dan legam. Dahan-dahan pohon hanya mampu menunduk seakan tersipu malu ketika sang surya dengan gagah perkasanya mengitarkan seluruh pandangnya ke seantero jagat raya. Deru mesin tua dan lalu lalang kendaraan semakin melengkapi suasana siang dipinggir kota Jakarta.

Sebuah tas ransel, lengkap dengan beberapa helai pakaian didalamnya, sebuah buku bahasa arab, sebuah novel terbaru dari seorang penulis ternama, serta sebuah mushaf suci menemani perjalanan ini. Sudah hampir setengah jam aku menunggu bis itu, namun belum juga tiba. Hingga akhirnya ia tiba.

Ups,
Sesaat aku telah berada didalamnya. Sebuah bis akan membawaku menyusuri kenangan lama di kota kembang. Memang ada beberapa keperluan aku saat itu. Selain mempersiapkan beberapa hal untuk acara wisuda minggu depan, juga ada sebuah janji dengan seorang kawan lama disana. Pandangku segera mengeliling keseluruh penjuru. Dua orang laki-laki terduduk di seat yang tersedia untuk tiga orang, aku mendekatinya, dan meminta izin untuk duduk disampingnya. Meskipun hanya basa-basi, karena memang itu bukan milik dia, dan juga bukan milikku, hanya sebuah fasilitas umum yang berhak diduduki oleh siapa saja yang akan menggunakannya.

Sejuknya udara kini bukan lagi ada dalam khayalku, aroma bunga mewangi sekilas dari sebuah pengharum yang digantung di sebelah Air Conditioner. Nyaman sekali… Padahal diluar sana udara masih panas menyengat, dan dahan-dahan pohonpun masih menunduk seakan tersipu malu karena pancar sinar matahari siang itu. Aku menarik nafasku, menikmati semua ini …

“Alhamdulillah”, gumamku

Tidak lama, bis berjalan meski hampir tertatih diantara kemacetan ibu kota.

Hampir memasuki gerbang tol, bis terhenti. Seorang ibu dengan seorang anak perempuan kecil dipangkuannya masuk kedalam bis. Pandangan matanya segera mengeliling, tak berbeda dengan apa yang kulakukan tadi. Mencari sebuah kursi yang rela untuk ia duduki selama sekitar 2 jam kedepan.

Namun sayang, semua telah terisi penuh, bahkan beberapa orangpun terpaksa berdiri. Siang itu memang menjelang akhir pekan. Tidak sedikit yang memanfaatkan saat-saat itu untuk menemui keluarga, atau sekedar melepaskan penat selama satu pekan di kesibukkan kota Jakarta.

Kalaulah aku tidak ingat, bahwa andaikan yang berdiri itu adalah ibuku yang juga lebih layak untuk merasakan nyamannya berada diatas sebuah busa berlapis kain beludru berwarna merah itu. Kalaulah aku tidak ingat, bahwa wanita, diakui ataupun tidak memang Alloh ciptakan tidak sekuat laki-laki dalam fisiknya. Kalaulah aku tidak ingat seorang Fahri-pun yang rela berdiri daripada menikmati nyamannya perjalanan ditengah teriknya cuaca dikota seribu menara setiap kali ia menuju Subra, ketika ia hendak talaqi bersama Syeikh Utsman.

Arrrgghhh,
Ingin rasanya aku terdiam dan menundukkan kepalaku, menelusup ke sela-sela pandang hingga kemudian berpura-pura terlelap, untuk mempertahankan apa yang telah aku rasakan akan nyamannya suasana saat itu.

Hingga beberapa saat menjelang, tak ada seorangpun yang rela memberikan tempat duduknya untuk ibu itu duduki. Memang tempat dudukku hampir berada dibagian belakang, terpisah jarak agak jauh dengan posisi ibu itu.

Aku hanya tersenyum, dalam gumamku mungkin semua orang berpikir yang sama, dan berharap yang sama pula, bahwa ada orang lain yang akan memberikan tempat duduknya untuk ibu itu selain dirinya. Sungguh picik!

“Astaghfirullah …”,
Aku berdiri dan melambaikan tangan ke arah ibu itu. Ia segera memahami lambaian tanganku, menghampiri dan dengan segala tutur dan kesopanannya ia berucap terima kasih. Aku malu, mengapa tidak sejak tadi aku berbuat demikian? Ah, ternyata aku masih banyak harus belajar memperbaiki diri …

Ego kadang seringkali lebih merajai akal dan pikir kita, sehingga menjadikan kita seorang yang bersikap individualis tanpa memperhatikan orang lain disekitar kita. Merasa bahwa kita berhak untuk menikmati segalanya, tanpa melihat apa yang ada disekeliling diri ini.

Memang tidak mudah untuk mencoba mengurangi untuk bisa mengikis habis sikap seperti ini. Namun, andaikan kita tidak mencoba dan berusaha dari sekarang, apakah kita rela lama-kelamaan ini bukan hanya menjadi sebuah ego, namun lebih menjadi sebuah sifat yang telah menempel dalam hati, melekat dalam jiwa, serta terpatri dalam diri hingga terciptalah kita individu yang benar-benar terlalu sulit untuk berubah. Naudzubillah…

Semoga Alloh senantiasa membimbing dan memperbaiki diri ini, menjadi pribadi yang senantiasa mengharap ridha serta kasih dan sayang-Nya.

Aamiin yaa robbal’alamiin …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s