Karena hari ini aku masih sahabatmu …

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

“Munafik lo!”
“Lo yang dulu bilang ke gua harus gini, harus gitu, gak boleh gini, gak boleh gitu!!”
“Tapi mana buktinya?”
“Sekarang malah lo sendiri yang malah ngelakuin itu semua!!!”
“Nyesel gua nurutin apa kata lo!”

Sederet kekecewaan tentunya menyertai ungkapan-ungkapan seseorang diatas. Bisa kita rasakan betapa kecewanya ia, ketika harus rela suatu waktu menemukan seseorang yang dulu pernah ia jadikan teladan, atau mungkin ia sempat berikan sanjungan, atau mungkin juga malah pernah ia berikan ruang mengisi ruang didalam jiwanya, ternyata kini mengecewakan ia.

Wajar memang, kitapun tak sedikit merasakan hal yang sama setiap kali berada dalam kondisi seperti itu. Namun, apakah ini menjadi sebuah akhir? Dan membiarkan kekecewaan itu menjadi sebuah titik finish yang akan menghentikan semua jalinan persaudaraan kita dengan orang tersebut?

Saya kira terlalu jahat jika kita bersikap demikian.

Saya jadi teringat beberapa waktu yang lalu, ketika sayapun merasakan hal seperti ini. Sungguh, inginnya diri ini hendak memvonis dia. Namun, sepertinya malah aneh jadinya, ketika tak ada satu rasa pengertian dari kita. “Wong, dia juga manusia to?”.

Ya, tak akan pernah ada manusia yang sempurna di dunia ini. Dari dulu bahkan sampai saat ini, ketika Alloh SWT masih dengan ke-Maha Kuasa-annya menegakkan gunung-gunung, menghamparkan bumi sebagai pijakkan kaki para ummat-Nya, serta meninggikan langit sebagai cakrawalanya, tak ada dan kiranya tak akan pernah ada manusia sempurna itu. Bahakan ia seorang Rasul Alloh pun pernah berada dalam satu kekhilafan. Memang, manusia lebih sempurna jika dibandingkan dengan mahluk ciptaan Alloh yang lain, namun bukan berarti ia seorang manusia tak pernah memiliki satu kekurangan. Satu saat, satu waktu pasti akan ada kekeliruan. Hanya tinggal kita manusia untuk berusaha meminimalkan semua kesalahan serta kekeliruan dalam berbuat dan bersikap.

Satu pertanyaan yang tertinggal adalah apakah ketika kita menemukan satu kesalahan dalam sikap seseorang kita hanya akan diam dan membiarkan ia larut dalam kekeliruannya? Lalu kita dengan tanpa dosa mengarahkan telunjuk kita kewajahnya sambil berucap bahwa ia sang munafik? Kemudian kitapun segera beralih kembali menemukan dunia kita yang dulu, dunia yang kelam, dunia yang padahal beberapa waktu yang lalu sedikit demi sedikit sudah mulai terkikis untuk berganti kedalam cahaya terang syiar Islam?

Sahabat …
Kiranya tak usah menunggu mentari esok pagi jika senja itu masih ada. Kiranya akan lebih bijak jika kita bersikap untuk saling mengingatkan. Karena memang disinilah Islam berada, dimana nilai kebersamaan dalam meniti langkah menuju kemanisan iman itu akan jauh lebih berarti jika kita rasakan bersama dibandingkan dengan jika kita mementingkan ego masing-masing individu diri kita.

Tak ada salahnya jika memang ia keliru, kita coba tegur ia dengan satu cara bijak. Kita coba luruskan kembali satu temali yang sempat tersimpul itu. Sebelum semua kemudian terlanjur dan temali itu terlipat kaku.

Indah rasanya jika kita dapat saling memberi dan menerima, saling mengingatkan agar senantiasa berada dalam kebenaran.

Buktikan kepada ia, bahwa semestinya bukan seperti itu ia berbuat seharusnya. Ingatkan ia. InsyaAlloh, andaikan memang apa yang kita harapkan ia untuk kembali tak lagi kita dapati, namun percayalah ia sang Malaikat Raqib telah menuliskan satu lagi lagi amalan kebaikan dalam buku catatan kehidupan kita.

Genggamlah tangannya, rengkuhlah bahunya, bimbing ia kembali melangkah bersama. Katakan padanya bahwa, karena hari ini aku masih sahabatmu …

Wallahu’alam bish-shawab.

3 thoughts on “Karena hari ini aku masih sahabatmu …

  1. guss mengatakan:

    kadang kita memang harus banyak bersabar dan bersabar dalam persaudaraan… berharap ketika jauh bisa didekatkan dan ketika dekat tak sampai saling terluka

  2. Khusnun mengatakan:

    Memang sebuah persahabatan itu indah dan sulit untuk di cari.Sebuah sikap saling percaya,saling mengingatkan,dan sebagai tempat saling tukar pikiran baik suka maupun duka.Terkadang kita harus mengungkapkannya walaupun itu menyakitkan jika memang itu terbaik untuknya.

  3. najma mengatakan:

    sahabat itu seperti bintang, meski tidak selalu tampak tapi dia selalu ada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s