Belajar Berbicara …

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Entah, saat itu saya hanya bisa terdiam. Lidah ini terasa kelu bahkan bibirpun pula terasa kaku. Padahal saat itu sangat jelas bahwa dia memang mencoba untuk mengajak saya berbincang. Tidak ada lagi orang disekitar kami, hanya kami berdua, dia dan saya. Yang berarti juga ini membuktikan bahwa dia memang mengajak berbincang hanya pada saya.

Alam pikiran ini malah pergi melayang, menerawang dan bagai menganggukkan kepala kepada pandangan orang yang kini mungkin mulai merasuki juga cara berpikir saya. Cara pandang yang justru malah menjadikan diri ini terasa sempit, dan tak lagi mengenal luasnya dunia. Setuju dengan ungkapan bahwa ketika kita berada di satu dunia yang memiliki strata lebih tinggi maka kita tidak akan dapat menikmati lagi untuk berkomunikasi dengan mereka yang memiliki strata lebih rendah dari kita.

“Bohong!!!”

Hati ini mulai berontak, antara pikir dan rasa mulai mengajak diri ini bagai berada di atas puncak kebimbangan. Bertolak belakang antara apa yang saya pikirkan dengan apa yang saya rasakan saat itu. Memilih mana yang harus saya perbuat, memilih mana yang harus saya ikuti. Antara pikir dan hati …

Tarikan dan helaan nafas panjang yang saya rasakan membawa diri ini mencoba memaknai apa yang terjadi.

Tak ada semestinya diri ini merasa lebih dari pada yang lain, meskipun memang kadang kondisi mengajak kita berada pada perasaan tersebut. Dan manusia memang selalu terlena ketika semua itu terjadi.

Idealnya memang sebuah dunia yang kita arungi setiap hari dalam posisi tertentu akan banyak mempengaruhi cara hidup kita, mempengaruhi cara bergaul kita, atau juga sedikitnya akan mempengaruhi cara kita dalam berkomunikasi dengan orang lain. Kita akan merasakan sulit menikmati perbincangan dengan seseorang yang memiliki latar berbeda dengan kita. Kita merasa asing dengannya.

Padahal bijaksananya, jika kita coba memandang dari sisi lain, andaikan memang latar antara diri kita dengan orang tersebut memang berbeda, bukankah justru kondisi itu akan menjadikan kita semakin kaya akan berbagai hal?. Tidak ada alasan karena berbeda strata pendidikan maka kita tidak lagi menikmati perbincangan kita dengan orang tersebut. Kurang bijaksana kiranya jika kita berpandangan seperti itu, karena justru jika memang kita memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari orang lain, semestinya kita tetap bisa menikmatinya baik itu sekedar perbincangan ataupun pergaulan dengan mereka. caranya entah dengan sedikit menurunkan level gaya bicara kita, ataupun entahlah …

Andaikan semua orang berpandangan picik seperti yang saat sebelumnya saya pun merasakannya, maka mungkin tidak akan pernah ada satu sekolahpun di dunia ini, dimana didalamnya terdapat dua segmen manusia yang jelas-jelas pastinya berbeda antara mereka. Latar pendidikan antara seorang murid dan guru-nya.

Saya jadi teringat, beberapa tahun yang lalu teman saya justru memutuskan untuk menikah dengan calon istrinya yang saat itu padahal memiliki strata pendidikan lebih tinggi daripadanya. Ternyata buktinya, sampai sekarang mereka bisa dan mampu membangun sebuah istana kemegahan rumah tangganya. Komunikasi tetap terjalin baik dan tidak menjadikan perbedaan strata dan latar belakang pendidikan mereka sebagai sebuah benteng pemisah.

Wallahu’alam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s