Benarka ia telah datang?

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

dikdik andhika ramdhanBismillaahirrahmaanirrahiim,

“Baik pak, siang ini laporannya insyaAlloh sudah bisa saya buat”, katanya sambil kemudian meletakkan telepon yang ada disamping meja kerjanya. Namun tidak lama berselang sebuah nada lagu berbunyi dari handphonenya. Sebuah percakapan tercipta saat itu.

“Hmm…, InsyaAlloh saya usahakan untuk bisa menghadirinya bu, mudah-mudahan saya bisa mengundur acara akhir minggu ini”.

Matahari baru saja menampakkan kembali sinarnya pagi itu, setelah semalam ia terlelap. Jakarta-pun memang masih sepi. Namun tidak buat dia, beberapa client sudah menghubunginya sejak shubuh tadi. Begitupun juga ketika beberapa saat yang lalu, ketika ia baru saja memasuki ruang kerjanya. Beberapa kali telepon di meja kerjanya langsung menyapa dia.

Sebuah notebook ber-merk vaio ia keluarkan, sesaat kemudian ia mendapati beberapa email masuk didalam inbox mail-nya. Satu-persatu ia balas.

Seorang wanita mengetuk pintu ruang kerjanya, lalu masuk dan menyampaikan beberapa dokumen untuk ia tanda tangani.

Ia melirik jam tangannya, jam 09.00. Ia kemudian menuju lift, beberapa kali ia masih harus menerima telpon saat itu ketika di dalam lift. Ia menuju lantai basement untuk mengeluarkan mobilnya, dan kemudian meluncur ke arah pusat kota.

Sibuk?

Entahlah….

Ramadhan memang baru menginjak di hari ke sembilan, namun baginya tak ada beda. Hari-hari berlalu begitu saja. Kini … Tak ada lagi mushaf al quran yang tahun lalu masih menemaninya menghiasi hari dengan lantunan ayat-ayat sucinya. Tak ada lagi sujud-sujud panjangnya tercipta ketika waktu sholat tiba. Tak ada lagi tarawih yang tahun lalu selalu mengajak ia untuk selalu berada di shaf paling depan berjamaah dengan yang lainnya. Tak ada lagi waktu-waktu ia sediakan untuk beritikaf di masjid. Tak ada lagi bacaan dzikir yang senantiasa terucap disela-sela helaan nafas dan detak jantungnya. Yang ada kini hanyalah puasanya yang telah merubah jadwal makannya, memindahkan waktu sarapan pagi 3 jam lebih awal dari biasanya dan menunda jadwal makan siang sampai nanti waktu maghrib tiba.

Segudang aktifitas telah menjadi sahabat setianya. Dari mulai bertemu client, meeting dengan direksi, rapat internal karyawan, mengecek pekerjaan di lapangan, survey ke beberapa tempat, dan lain sebagainya. Hingga kini ia tidak lagi merasakan bagaimana indahnya Ramadhan, dengan berjuta limpahan rahmat, maghfirah dan barokah-nya.

Hari-hari berlalu begitu cepat …

“Apa yang terjadi?, bukankah ia yang engkau tunggu kini tlah datang?”

Ya, masih terngiang dalam ingatan kita sebuah do’a disaat tahun lalu berharap ingin bertemu kembali dengan Ramadhan. Merasakan berjuta bahagia dalam balutan kasih sayang Alloh SWT. Namun ketika kini Ramadhan benar-benar telah menghamipiri kita kembali, mengetuk dan berucap, “Selamat datang di jamuan Allah yang paling istimewa, Ramadhan yang dinanti kehadirannya olehmu”. Namun kita hanya melirik sesaat dan kembali larut di arena kesibukkan kita.

Jangan sampai ketika nanti Ramadhan telah pergi, kita baru tersadar, dan bertanya, “Benarkah ia telah datang?”. Dan semua terlambat, Ramadhan telah berlalu …

Wallahu’alam bish-shawab

Belajar Berbicara …

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Entah, saat itu saya hanya bisa terdiam. Lidah ini terasa kelu bahkan bibirpun pula terasa kaku. Padahal saat itu sangat jelas bahwa dia memang mencoba untuk mengajak saya berbincang. Tidak ada lagi orang disekitar kami, hanya kami berdua, dia dan saya. Yang berarti juga ini membuktikan bahwa dia memang mengajak berbincang hanya pada saya.

Alam pikiran ini malah pergi melayang, menerawang dan bagai menganggukkan kepala kepada pandangan orang yang kini mungkin mulai merasuki juga cara berpikir saya. Cara pandang yang justru malah menjadikan diri ini terasa sempit, dan tak lagi mengenal luasnya dunia. Setuju dengan ungkapan bahwa ketika kita berada di satu dunia yang memiliki strata lebih tinggi maka kita tidak akan dapat menikmati lagi untuk berkomunikasi dengan mereka yang memiliki strata lebih rendah dari kita.

“Bohong!!!”

Hati ini mulai berontak, antara pikir dan rasa mulai mengajak diri ini bagai berada di atas puncak kebimbangan. Bertolak belakang antara apa yang saya pikirkan dengan apa yang saya rasakan saat itu. Memilih mana yang harus saya perbuat, memilih mana yang harus saya ikuti. Antara pikir dan hati …

Tarikan dan helaan nafas panjang yang saya rasakan membawa diri ini mencoba memaknai apa yang terjadi.

Tak ada semestinya diri ini merasa lebih dari pada yang lain, meskipun memang kadang kondisi mengajak kita berada pada perasaan tersebut. Dan manusia memang selalu terlena ketika semua itu terjadi.

Idealnya memang sebuah dunia yang kita arungi setiap hari dalam posisi tertentu akan banyak mempengaruhi cara hidup kita, mempengaruhi cara bergaul kita, atau juga sedikitnya akan mempengaruhi cara kita dalam berkomunikasi dengan orang lain. Kita akan merasakan sulit menikmati perbincangan dengan seseorang yang memiliki latar berbeda dengan kita. Kita merasa asing dengannya.

Padahal bijaksananya, jika kita coba memandang dari sisi lain, andaikan memang latar antara diri kita dengan orang tersebut memang berbeda, bukankah justru kondisi itu akan menjadikan kita semakin kaya akan berbagai hal?. Tidak ada alasan karena berbeda strata pendidikan maka kita tidak lagi menikmati perbincangan kita dengan orang tersebut. Kurang bijaksana kiranya jika kita berpandangan seperti itu, karena justru jika memang kita memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari orang lain, semestinya kita tetap bisa menikmatinya baik itu sekedar perbincangan ataupun pergaulan dengan mereka. caranya entah dengan sedikit menurunkan level gaya bicara kita, ataupun entahlah …

Andaikan semua orang berpandangan picik seperti yang saat sebelumnya saya pun merasakannya, maka mungkin tidak akan pernah ada satu sekolahpun di dunia ini, dimana didalamnya terdapat dua segmen manusia yang jelas-jelas pastinya berbeda antara mereka. Latar pendidikan antara seorang murid dan guru-nya.

Saya jadi teringat, beberapa tahun yang lalu teman saya justru memutuskan untuk menikah dengan calon istrinya yang saat itu padahal memiliki strata pendidikan lebih tinggi daripadanya. Ternyata buktinya, sampai sekarang mereka bisa dan mampu membangun sebuah istana kemegahan rumah tangganya. Komunikasi tetap terjalin baik dan tidak menjadikan perbedaan strata dan latar belakang pendidikan mereka sebagai sebuah benteng pemisah.

Wallahu’alam bish-shawab.