Karena Ia begitu menyayangi kita…

Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan

Bismillahirrahmanirrahiim …

Menyusuri langkah, merajut hari-hari dalam balutan kisah kehidupan kadang berkali menjadikan kita berada dalam kefuturan akan ke-Maha Kuasaan-Nya. Sering kita berujar, betapa banyak do’a yang kita panjatkan, namun mengapa belum jua harap terwujud dalam nyata?, atau mungkin sering pula kita berkata, begitu banyak ibadah telah kita haturkan, namun mengapa Ia selalu menjadikan kita kecewa dalam menjalani segala keputusan-Nya?.

Lalu dengan diiringi riuh gemuruh tepuk tangan setan, kita menyangkal atas segala karunia yang pernah ada. Kita melupakan atas semua yang telah hadir mengantarkan kita sampai pada detik dimana saat ini kita masih bisa menarik nafas panjang, merasakan segarnya aroma kehidupan.

Saya jadi teringat ketika suatu hari seorang ibu dengan segenap kasih dan sayangnya memeluk dan menciumi putrinya. Dengan penuh kemesraan, ia membelai lembut rambut sang putri sambil berucap do’a penuh cinta. Saat itu ada yang semestinya kita tanya dalam diri kita, mengapa sang ibu itu sampai begitu mesranya, begitu sayangnya pada putrinya itu?

Ibu itu berujar, “Karena ini adalah buah hatiku, yang terlahir dengan taruhan nyawaku, yang dalam tubuhnya mengalir darahku, sehingga tiada pantas bagiku untuk tidak mengasihinya dengan segenap kasih dan cintaku …”.

Tentunya tak ada dari kita yang tidak sependapat dengan pernyataan ibu itu diatas. Namun ketika kita mencoba menyelami makna yang ada dibaliknya semestinya kitapun tersadar, bahwa ternyata seorang yang “hanya” berperan untuk melahirkan saja sebegitu cintanya pada kita. Apalagi Ia yang telah menciptakan kita ….

Padahal kalaulah Allah tidak menyayangi kita, begitu mudah bagi Ia untuk menurunkan azab-Nya, menimpakannya pada kita yang tidak secuilpun memiliki kuasa atas semua kehendaknya. Kalaulah Ia tidak menyayangi kita, betapa mudahnya bagi Ia untuk membukakan dan mempertontonkan seluruh aib kita hingga tak ada lagi sanjungan, tak ada lagi gelar kehormatan apalagi jika hanya sebuah predikat yang hanya ada dalam pandangan manusia. Tidak ada !!, semua akan hilang ketika mereka tahu sebenarnya betapa hinanya diri ini … Tinggalah kita seonggok mahluk yang penuh dengan penyesalan akan apa yang telah kita lakukan, karena melupakan segala nikmat dan karunia yang selalu hadir menemani hari-hari panjang kita.

Bermuhasabahlah kembali …

Mengingat kembali segala dosa, tiada salahnya kita luangkan sejenak sesaat sebelum mata ini terpejam, mengingat kembali salah dan khilaf yang telah kita perbuat, bermohonlah ampun pada-Nya karena hanya Ia satu-satunya yang maha penerima taubat hamba-Nya, karena diesok hari kita tak akan bisa dan tak akan pernah bisa menjamin akan keberadaan kita didunia yang fana ini.

Semoga Alloh mengembalikan kita pada fitrah-Nya, fitrah yang akan menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya, mensyukuri segala nikmat-Nya dan hanya memohon atas apa yang kita harap ada dalam ridha-Nya …

Aamiin yaa robbal’alamiin …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s