<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jejak Dunia</title>
	<atom:link href="http://jejakdunia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jejakdunia.wordpress.com</link>
	<description>Rangkai kata iringi langkah makna ...</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Dec 2011 01:40:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jejakdunia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jejak Dunia</title>
		<link>http://jejakdunia.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jejakdunia.wordpress.com/osd.xml" title="Jejak Dunia" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jejakdunia.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ini Dia 3 Alasan Mengapa Mereka Menabung Dinar Emas</title>
		<link>http://jejakdunia.wordpress.com/2011/12/30/ini-dia-3-alasan-mengapa-mereka-menabung-dinar-emas/</link>
		<comments>http://jejakdunia.wordpress.com/2011/12/30/ini-dia-3-alasan-mengapa-mereka-menabung-dinar-emas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 01:39:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jejakdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[dinar emas]]></category>
		<category><![CDATA[menabung dinar emas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakdunia.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Apa bedanya dengan menabung biasa? toh dari semenjak kecil bukankah orang tua kita telah membiasakan kita untuk menabung? Dari mulai celengan tanah liat sampai ke bambu mungkin pernah menjadi media kita untuk kita menabung. Namun, sekarang kok ada istilah menabung dinar emas? Mengapa orang-orang kini memilih untuk menabung di dinar emas? Dinar Emas Ada 3 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=76&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa bedanya dengan menabung biasa? toh dari semenjak kecil bukankah orang tua kita telah membiasakan kita untuk menabung? Dari mulai celengan tanah liat sampai ke bambu mungkin pernah menjadi media kita untuk kita menabung. Namun, sekarang kok ada istilah menabung dinar emas? Mengapa orang-orang kini memilih untuk menabung di dinar emas?</p>
<div id="attachment_580"><a href="http://www.nabungdinaremas.com/wp-content/uploads/dinar_thumb.gif"><img title="Dinar Emas" src="http://www.nabungdinaremas.com/wp-content/uploads/dinar_thumb.gif" alt="Dinar Emas" width="296" height="239" /></a>Dinar Emas</p>
</div>
<p>Ada 3 alasan utama yang menjadikan orang-orang menabung dinar emas, berikut catatan saya mengenai hal ini.</p>
<p><strong>Alasan yang pertama, karena dinar emas memiliki nilai investasi.</strong> Sesuatu akan dikatakan bernilai investasi jika ada harapan akan memberikan keuntungan di kemudian hari. Nah begitu juga dengan dinar emas, belajar dari pengalaman memang dinar emas memberikan nilai keuntungan yang cukup signifikan dari masa ke masa.</p>
<p>Namun satu hal yang patut diingat adalah, setiap investasi akan memakan waktu yang relatif lama. Oleh karena itu dikatakan bahwa dinar emas juga termasuk kedalam jenis <em>long time investment</em>. Jadi jangan berharap mendapatkan keuntungan cepat dari setiap investasi.</p>
<p><strong>Alasan kedua, karena dinar emas memiliki nilai proteksi atau perlindungan terhadap kemampuan daya beli kita.</strong> Anda mungkin masih ingat jika dulu kita diberi uang jajan ketika mau berangkat sekolah sebesar Rp. 100,-, itu bisa kita belikan 4 buah permen seharga Rp. 25,- Namun apa yang terjadi hari ini? Uang Rp. 100,- tak cukup untuk kita membeli permen tersebut lagi. Kenapa? Karena ketika kita menyimpan uang, maka uang tersebut tidak akan memberikan perlindungan atas kemampuan daya beli kita dari masa ke masa.</p>
<p>Lain halnya ketika kita menyimpan dinar emas, dari dahulu sejak zaman Khalifah Umar Bin Khattab, ketika awal mula dinar emas ini di buat dan dijadikan alat transaksi. Nilai jual dari dinar emas itu bisa digunakan untuk membeli seekor kambing. Jika saat ini harga dinar emas berkisar di angka Rp. 2.2 juta, maka cocok sekali, harga tersebut masih bisa dibelikan untuk seekor kambing bukan?</p>
<p>Kemudian, <strong>alasan yang ketiga, karena dinar emas memiliki nilai dakwah.</strong> Bagaimanapun sejarah Islam mencatat bahwa penggunaan dinar emas islam ini pernah dan sangat memudahkan ummat dalam bertransaksi. Namun seiiring dengan berjalannya waktu, kini dinar emas memang lebih banyak dijadikan sebagai media investasi, tidak lagi sebagai media transaksi. Untuk itu, kita bercita-cita semoga di kemudian hari masyarakat akan paham kembali akan makna dan keberadaan dinar emas dalam menunjang perekonomian ummat Islam.</p>
<p>Jadi, anda masih mencari alasan untuk menabung dinar emas? Saya punya tiga! Hehe</p>
<p><em>Wallahu’alam bish-shawab</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejakdunia.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejakdunia.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejakdunia.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejakdunia.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejakdunia.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejakdunia.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejakdunia.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejakdunia.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejakdunia.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejakdunia.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejakdunia.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejakdunia.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejakdunia.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejakdunia.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=76&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakdunia.wordpress.com/2011/12/30/ini-dia-3-alasan-mengapa-mereka-menabung-dinar-emas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9939b6e147f0a2cbc46e4608b1bf17a7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jejakdunia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.nabungdinaremas.com/wp-content/uploads/dinar_thumb.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Dinar Emas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jadikan Daerah Layaknya Ibu Kota</title>
		<link>http://jejakdunia.wordpress.com/2011/12/20/jadikan-daerah-layaknya-ibu-kota/</link>
		<comments>http://jejakdunia.wordpress.com/2011/12/20/jadikan-daerah-layaknya-ibu-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 03:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jejakdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Anggota DPD RI]]></category>
		<category><![CDATA[DPD RI]]></category>
		<category><![CDATA[Seandainya saya menjadi Anggota DPD RI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakdunia.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Seandainya saya anggota DPD, apa yang ingin saya lakukan?&#8221;, satu jawaban yang terlintas dalam benak saya adalah sebuah keinginan untuk menjadikan daerah yang saya wakili layaknya sebuah ibu kota. Mungkin anda akan mengernyitkan dahi ketika mendengar jawaban tersebut, namun keyakinan ini menjadikan sebuah fokus utama seharusnya bagi setiap anggota dewan yang notabene menjadi perwakilan daerahnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=72&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Seandainya saya anggota DPD, apa yang ingin saya lakukan?&#8221;, satu jawaban yang terlintas dalam benak saya adalah sebuah keinginan untuk menjadikan daerah yang saya wakili layaknya sebuah ibu kota.</p>
<p>Mungkin anda akan mengernyitkan dahi ketika mendengar jawaban tersebut, namun keyakinan ini menjadikan sebuah fokus utama seharusnya bagi setiap anggota dewan yang notabene menjadi perwakilan daerahnya untuk muncul dan diketahui keeradaannya di pusat. Karena seandainya keterlibatan daerah dengan hanya berfungsi sebagai penunjang saja seperti saat ini, saya kira terlalu sulit untuk kita membangun sebuah negara yang berharap akan diperhitungkan lebih di mata dunia.</p>
<p>Kita mengenal berbagai kemudahan akses, dari mulai informasi, teknologi, hingga transparansi publik hanya ada di kota-kota besar saja. Sedangkan bagi daerah, hanya sedikit sekali daerah yang sadar akan hal tersebut. Hasilnya, ketimpangan akan kesinambungan antara pusat dan daerah berhenti di tengah jalan.</p>
<p>Pada media fisik satu contoh ketika kita berbicara tentang akses informasi, pada saat pemerintah pusat menggembar-gemborkan berbagai program ternyata dengan berbagai keterbatasan, daerah baru mengetahui program-program tersebut jauh di waktu kemudian. Hal ini dikarenakan pemerintah daerah tidak dengan cepat mendapatkan informasi tersebut. Disamping fasilitas yang ada di daerah tidak memadai, ketersediaan sumber daya manusia yang handal juga lebih banyak di sebar hanya di kota saja. Sehingga banyak daerah yang tidak mengerti ketika muncul <em>update</em> terbaru dari pusat.</p>
<p>Kemudian ketika kita bicara tentang budaya transparansi publik, pada saat pemerintah pusat berbicara tentang prinsip keterbukaan kepada masyarakat (misalnya dalam hal perekrutan Pegawai Negeri), di daerah justru masih saja mengagung-agungkan cara lama, dengan prinsip serba tertutup dan tidak sedikitpun proses-proses tersebut diketahui masyarakatnya.</p>
<p>Tentunya berawal dari cita-cita ini bukan berarti kita meng-<em>copy paste</em> setiap perkembangan teknologi, fasilitas serta berbagai kemudahan yang ada di ibu kota untuk kemudian pula harus ada di setiap daerah. Karena ini butuh waktu yang tidak sedikit dan yang jelas juga pastinya akan membutuhkan dana yang tidak sedikit pula. Namun, dengan dimulai dari berupaya penuh menciptakan generasi muda yang memiliki kualitas pendidikan yang sejajar dengan kota besar, <em>upgrade</em> pemikiran para aparatnya dan juga berupaya terus untuk menyediakan ketersediaan komposisi standar akan beberapa fasilitas untuk menghilangkan ketimpangan akan pusat dan daerah, setidaknya ini diharapkan menjadi sebuah awal akan terciptanya keseimbangan tersebut.</p>
<p>Semoga&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejakdunia.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejakdunia.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejakdunia.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejakdunia.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejakdunia.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejakdunia.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejakdunia.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejakdunia.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejakdunia.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejakdunia.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejakdunia.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejakdunia.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejakdunia.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejakdunia.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=72&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakdunia.wordpress.com/2011/12/20/jadikan-daerah-layaknya-ibu-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9939b6e147f0a2cbc46e4608b1bf17a7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jejakdunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tak Perlu Tampak Dilihat!</title>
		<link>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/10/30/tak-perlu-tampak-dilihat/</link>
		<comments>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/10/30/tak-perlu-tampak-dilihat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 00:59:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jejakdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakdunia.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan &#8220;Roooooti! &#8230; Roooooooooooti! &#8230;&#8221;, begitu berulang kali suara itu yang hampir selalu aku dengar setiap usai shubuh disini. Di tempat yang tak terasa sudah hampir satu tahun aku menempatinya. Satu, dua, tiga orang, atau mungkin bahkan lebih dari itu biasanya para penjual roti keliling yang mulai beroperasi selepas shubuh melewati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=69&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan</p>
<p>&#8220;Roooooti! &#8230; Roooooooooooti! &#8230;&#8221;, begitu berulang kali suara itu yang hampir selalu aku dengar setiap usai shubuh disini. Di tempat yang tak terasa sudah hampir satu tahun aku menempatinya.</p>
<p>Satu, dua, tiga orang, atau mungkin bahkan lebih dari itu biasanya para penjual roti keliling yang mulai beroperasi selepas shubuh melewati area tempat kost-ku disini. Sebuah jalanan kecil berlapis semen yang dikiri kanannya kini sudah semakin banyak bolong-bolongnya itu memang menjadi salah satu saksi sejarah bagi beliau-beliau rupanya. Menyusuri gang-gang sempit, masuk keluar pemukiman penduduk di satu sudut kemewahan ibu kota, semua harus menjadi satu pilihan bagi mereka dalam memaksimalkan ikhtiarnya, berjuang bagi anak-anak dan istrinya.</p>
<p>Pagi itu sengaja aku menegurnya ketika kami selesai wirid seusai shubuh di musholla. Bapak itu sepertinya memang salah satu dari mereka, mereka yang hingga pagi nanti biasanya suaranya masih menghiasi ruang dengar kami para warga disini. Aku menyadari kehadiran beliau ketika kudapati sebuah tanggungan di halaman musholla. Kiranya memang demikian, bapak itu meninggalkannya disana untuk menunaikan shubuh berjamaah bersama kami saat itu.</p>
<p>&#8220;Rotinya dua, pak&#8221;, ucapku membuka pembicaraan saat itu.<br />
Dengan lihainya sesaat kemudian, ia mengepak roti-roti itu kedalam dua bungkusan, dan menyerahkannya padaku. Aku tidak langsung menerimanya, tapi justru sengaja mencuri waktunya untuk menghabiskan kepenasaranku.</p>
<p>&#8220;Rumahnya dekat pak?&#8221;, tanyaku.<br />
&#8220;Iya mas, dua gang dari sini ..&#8221;, jawabnya sambil tersenyum.</p>
<p>Aku sadar, semakin banyak aku bertanya disana, semakin banyak juga aku akan menyita waktunya. Makanya, setelah aku menyodorkan selembar uang lima ribuan, aku mengajaknya untuk melanjutkan rute jualannya yang kebetulan memang mengarah ke daerah tempat kost-an ku.</p>
<p>Sambil berjalan, aku masih sempat menanyakan apa roti-roti itu buatannya sendiri atau bukan, kapan membuatnya, berapa banyak biasanya produksinya, dan lain sebagainya. Aku tak tahu, keterlaluankah aku saat itu, telah mengambil nafas beliau untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Padahal seharusnya beliau berteriak-teriak lantang menjajakan dagangannya. Maafkan saya pak, ampuni aku yaa Rabb.</p>
<p>Sampai akhirnya aku tertegun, berdiri di depan gerbang rumah menyaksikan punggung beliau yang semakin jauh semakin hilang dan lenyap di ujung gang, berbelok ke arah jalanan, yang selanjutnya menembus Sudirman.</p>
<p>Saat itu aku masih berdecak kagum atas kegigihan beliau dalam mengais rezeki. Mungkin pikirku dia termasuk orang-orang yang lebih awal dalam menjemput rezekinya dibandingkan kami yang masih menunggu hingga waktu menunjukkan pukul setengah delapan atau pukul delapan nanti. Ketika ternyata aku tahu bahwa beliau telah memulai ikhtiarnya sejak sore kemarinnya jika akan menjual roti. Dari mulai membuat adonan, hingga mengukusnya di saat dini hari menjelang.</p>
<p>&#8220;Nggak tahajud pak?&#8221;, candaku saat itu, ketika beliau berkata bahwa agar rotinya masih hangat maka ia kukus di dini hari.<br />
&#8220;Alhamdulillah mas, meski saya jarang bisa berjamaah dengan istri, karena harus bergantian mengukus roti-roti ini&#8221;, ujarnya sambil tersipu.</p>
<p>Hampir saja aku tercekat saat itu. Subhanalloh, bulir-bulir ke-Maha sucian-Mu yaa Rabb, engkau telah hadirkan dihadapanku, saat itu.</p>
<p>Hampir saja aku tak percaya, melihat penampilan beliau. Terlalu sulit membayangkan seseorang, disaat sebuah kewajiban akan maksimalnya ikhtiar dilakukan, ternyata masih bisa ia padukan dengan sisi-sisi ke-Maha Agungan dalam beribadah. Jujur, aku mungkin merasa iri pada beliau. membandingkan dengan diri ini yang terlalu lemah, bahkan mungkin terlalu sering lupa untuk menunaikan meski sekedar dua raka&#8217;at saja di sepertiga malam terakhir, ternyata beliau bisa, bahkan insyaAlloh dengan keistiqamahannya. Ternyata memang untuk berbuat kebaikan itu tak perlu tampak dilihat.</p>
<p>Ada titik-titik air mata yang mulai berada di pelupuk mata ini. Aku bersyukur pada-Mu yaa Rabb, telah Kau ajari aku untuk memahami arti penghambaan yang sesungguhnya.</p>
<p>Dalam sebuah siang, aku kembali bertemu dengan beliau. Setelah dua tiga kali pertemuan kami seusai shubuh di musholla itu. Aku kaget dibuatnya, ternyata ketika selesai beliau menjual roti-rotinya, beliau masih setia keluar masuk bis kota, menjajakkan minuman botol. Subhanalloh, aku kira setelah kerja semalaman beliau gunakan waktu siangnya untuk beristirahat, tapi ternyata tidak.</p>
<p>Aku semakin paham akan hal ini yaa Rabb, memang betul ternyata, &#8220;Kedua telapak kaki seorang hamba yang beriman tidak akan pernah berhenti menjejak, hingga ia menjejakkan kakinya di pintu Surga&#8221;.</p>
<p>Wallahu&#8217;alam bish-shawab</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejakdunia.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejakdunia.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejakdunia.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejakdunia.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejakdunia.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejakdunia.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejakdunia.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejakdunia.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejakdunia.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejakdunia.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejakdunia.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejakdunia.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejakdunia.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejakdunia.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=69&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/10/30/tak-perlu-tampak-dilihat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9939b6e147f0a2cbc46e4608b1bf17a7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jejakdunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Berjuang, Ustadz!</title>
		<link>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/10/22/selamat-berjuang-ustadz/</link>
		<comments>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/10/22/selamat-berjuang-ustadz/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 05:41:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jejakdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakdunia.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan &#8220;Eh &#8230; Assalamu&#8217;alaikum ustadz&#8221;, sapaku sambil tersenyum dan hampir saja tergagap saat itu. Sesaat ketika menoleh seusai aku mengambil air wudlu di tempat wudlu yang terletak di pelataran samping bawah mesjid itu. Beliau kemudian menjawab salamku dan kamipun berjabat tangan, erat sekali. Aku merasa ini untuk kali pertamanya kembali aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=67&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan</p>
<p>&#8220;Eh &#8230; Assalamu&#8217;alaikum ustadz&#8221;, sapaku sambil tersenyum dan hampir saja tergagap saat itu. Sesaat ketika menoleh seusai aku mengambil air wudlu di tempat wudlu yang terletak di pelataran samping bawah mesjid itu.</p>
<p>Beliau kemudian menjawab salamku dan kamipun berjabat tangan, erat sekali. Aku merasa ini untuk kali pertamanya kembali aku bertemu dengan beliau, setelah entah berapa lama aksi-aksi sudah jarang lagi kami lakukan di jalanan ibukota. Mungkin kalaupun aku bertemu beliau setelah moment-moment aksi tersebut, paling juga di beberapa kesempatan kampanye menjelang pemilu legislatif beberapa saat yang lalu saja. Itupun hanya dari kejauhan.</p>
<p>Kami kemudian berjalan beriringan, menaiki satu persatu anak tangga berlapis keramik yang warnanya kini mulai memudar. Aku masih saja memperhatikan gerak beliau. Semangatnya masih cukup membuat kami bangga, padahal di usia beliau seperti sekarang, banyak orang lebih memilih untuk pensiun dini, memilih untuk bisa beristirahat lebih awal dari masalah-masalah yang dihadapinya. Tapi ternyata justru lain dengan beliau, beliau sepertinya justru semakin hari semakin bersemangat saja mengurusi ummat.</p>
<p>Dzuhur memang masih sekitar setengah jam lagi menjelang. Suasana mesjid berlatar putih itu kini terasa semakin bertambah sejuk, ketika angin-angin dingin mulai masuk dan berhembus melalui jendela-jendela yang terbuka hampir di sekelililing ruangan masjid. Dari sana aku bisa menatap dedaunan yang melambai-lambai para pengguna jalanan yang melintas dihadapannya serta mengajak untuk bersegera mempersiapkan diri untuk menunaikan Dzuhur, tepat di awal waktu.</p>
<p>Setelah tahiyyatul masjid aku beringsut menuju tempat duduk beliau. Ingin rasanya aku mendengarkan kembali tausyiah-tausyiahnya yang biasanya selalu saja berhasil membuka mata hati ini. Membuka dan menyadarkan atas kelafaan diri, hingga mampu membawa kembali pada kobaran semangat untuk memperbaikinya setelah itu.</p>
<p>Perbincangan kamipun berlanjut mengisi waktu sebelum Dzuhur siang itu.</p>
<p>Sesaat aku menunjukkan kepada beliau sebuah tulisan di sebuah media. Tentang kontroversi pengesahan sebuah Rancangan Undang Undang menjadi sebuah Undang undang, yang mengangkat satu tema tentang Pornografi dan Pornoaksi, yang baru saja disyahkan oleh para anggota Dewan beberapa bulan yang lalu.</p>
<p>&#8220;Ini yang membuat aneh bagi saya ustadz&#8221;, jawabku saat itu ketika beliau bertanya tentang apa maksudnya aku menyodorkan tulisan tersebut.<br />
&#8220;Ternyata masih banyak kalangan yang menolak hal ini. Dan yang ironis justru banyak pula dari mereka adalah justru kalangan perempuan. Padahal bukankah ini justru lebih banyak untuk melindungi mereka? lebih banyak untuk mengangkat harkat dan martabat mereka?&#8221;, lanjutku berapi-api.</p>
<p>Ia hanya tersenyum, sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku.</p>
<p>&#8220;Itulah akhi, sebetulnya ini memang permasalahan ummat yang cukup rumit. Ini menjadi &#8216;PR&#8217; besar bagi kita untuk menyadarkan mereka yang saat ini mungkin masih terlalu asyik dengan hal-hal yang justru akan semakin jauh menempatkan mereka pada wanginya surga&#8221;.</p>
<p>&#8220;Mereka terlalu takut ketika hal itu dilaksanakan sepenuhnya, maka tak ada lagi mata pencaharian bagi mereka. Tak ada lagi ladang usaha bagi mereka untuk mengais rezeki. Padahal, wallohi, bukankah justru Alloh akan memberkahi rezeki pada setiap hamba-Nya itu jika hamba-Nya tersebut mendapatkannya dengan jalan yang halal, serta dari pintu yang halal juga&#8221;. Tutur beliau panjang lebar.</p>
<p>&#8220;InsyaAlloh ini menjadi satu ladang amal lagi buat kita akhi. Menyadarkan mereka secara bertahap, hingga akhirnya bisa meraih hasil yang maksimal. Menyadarkan mereka hingga akhirnya mereka bisa bersama-sama dengan kita menghirup nafas-nafas kerinduan akan keridhaan Alloh, bukan jutru malah menyebabkan mereka benci dan menjauh dari kita.&#8221;</p>
<p>Aku hanya mengangguk-angguk, merangkai angan, membayangkan beberapa usaha dan upaya dari beberapa sodara kita yang mungkin salah satunya membuat mereka justru lari dan semakin menjauh dari kita.</p>
<p>&#8220;Terus menurut ustadz, apa upaya dari anggota Dewan yang telah menyetujui pengesahan Undang-Undang tersebut menjadi sesuatu hal yang percuma dan sia-sia? ketika kini ternyata tak ada sedikitpun beda dalam kenyataanya? Pornografi dan Pornoaksi justru rasanya malah makin menjadi &#8230;&#8221;, lanjutku.</p>
<p>&#8220;InsyaAlloh, ini salah satu yang kita agendakan juga bersama rekan-rekan yang lain. Rekan-rekan yang ada di parlemen, rekan-rekan yang ada di eksekutif, semuanya secara perlahan namun tetap berusaha maksimal untuk bisa secepat mungkin membenahi ummat ini. Rekan-rekan di parlemen telah berusaha maksimal, dan alhamdulillah ternyata Alloh menganugerahkan ridha-Nya hingga akhirnya Undang Undang tersebut dapat disahkan. Dan sekarang, do&#8217;akan semoga rekan-rekan di eksekutif-pun bisa segera memaksimalkan usahanya untuk ini&#8221;, lanjut beliau.</p>
<p>&#8220;Iya betul ustadz&#8221;.<br />
&#8220;Terus, harapan saya mungkin dikemudian hari sepertinya kita sudah saatnya untuk bisa berada pada posisi-posisi penting yang menjadi tombak pelaksanaan Undang-Undang tersebut ya ustadz?, siapa tahu mungkin misalnya kalo ustadz yang menjadi Menkominfo bisa sesegera mungkin memberantas pornografi di media, hehe&#8221;, candaku.</p>
<p>Kami berdua terkekeh &#8230;<br />
&#8220;insyaAllloh &#8230; insyaAlloh akhi &#8230;, mohon do&#8217;anya saja semoga dimanapun tempat kita berada, sebagai apapun posisi kita di masyarakat, kita bisa memaksimalkan upaya untuk memberantas hal itu&#8221;, sambut beliau.</p>
<p>Lantunan ayat Al-Quran semakin terdengar jelas saat itu. Hingga akhirnya adzan-pun berkumandang. Dan akupun terkejut, ketika mendapati tubuh ini terlelap di atas sajadah setelah menunaikan tahajud beberapa waktu yang lalu. Ternyata aku bermimpi. Dan adzan yang berkumandang itu kini ternyata bukan adzan Dzuhur yang kami nantikan seperti dalam mimpi tadi, namun justru adzan shubuh, yang telah membangunkan ummat-ummat Muhammad untuk segera berdiri menghadap panggilan suci.</p>
<p>(Sebuah catatan atas mimpi yang belum pernah terlaksana dalam nyata, berbincang dengan beliau Ustadz Tifatul Sembiring. Semoga Alloh memberikan kekuatan dan kemampuan untuk mengemban amanah sebagai salah satu ujung tombak pembenahan ummat, sebagai Menkominfo 2009-2014. Barokallohulaka &#8230;, Selamat Berjuang, Ustadz) </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejakdunia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejakdunia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejakdunia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejakdunia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejakdunia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejakdunia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejakdunia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejakdunia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejakdunia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejakdunia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejakdunia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejakdunia.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejakdunia.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejakdunia.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=67&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/10/22/selamat-berjuang-ustadz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9939b6e147f0a2cbc46e4608b1bf17a7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jejakdunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Trailer Film Ketika Cinta Bertasbih Jilid 2</title>
		<link>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/08/06/trailer-film-ketika-cinta-bertasbih-jilid-2/</link>
		<comments>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/08/06/trailer-film-ketika-cinta-bertasbih-jilid-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 01:16:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jejakdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakdunia.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Monggo diliat, bagi yang masih penasaran kelanjutan cerita film ini. Katanya insyaAlloh jilid 2 dari film ini akan mulai hadir di bioskop tanggal 17 September 2009. Meski pada KCB jilid 1, secara cerita &#8220;greget&#8221; film ini belum terlalu keliatan, mudah-mudahan di jilid 2 akan lebih menarik lagi, apalagi settingnya kini ada di Indonesia. Tentunya kontras [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=65&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Monggo diliat, bagi yang masih penasaran kelanjutan cerita film ini. Katanya insyaAlloh jilid 2 dari film ini akan mulai hadir di bioskop tanggal 17 September 2009.</p>
<p>Meski pada KCB jilid 1, secara cerita &#8220;greget&#8221; film ini belum terlalu keliatan, mudah-mudahan di jilid 2 akan lebih menarik lagi, apalagi settingnya kini ada di Indonesia. Tentunya kontras warna dan budaya dari KCB jilid 1 dengan KCB jilid 2 emang terasa banget, terbukti dengan nuansa website-nya juga, hehe yang kini makin sejuk. Mudah-mudahan ini memang menggambarkan hati orang-orang indonesia yang pada sejuk <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Dilain hal, semoga jilid 2 film ini akan lebih banyak lagi hikmah yang tersirat di dalamnya, sehingga semakin sukses untuk mampu menyandang sebagai salah satu film dakwah.</p>
<p>Satu yang perlu dipikir lagi kalo mau nonton Gala Premier film KCB jilid 2 ini, karena emang ternyata dirilisnya di akhir Ramadhan, makanya silakan dipilih, mau itikaf di mesjid atau nongkrong di bioskop? hehe &#8230; (kayaknya abis lebaran aja kali ya &#8230; )</p>
<p>Versi 1 :<br />
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://jejakdunia.wordpress.com/2009/08/06/trailer-film-ketika-cinta-bertasbih-jilid-2/"><img src="http://img.youtube.com/vi/Fr5V908dSRs/2.jpg" alt="" /></a></span></p>
<p>Versi 2:<br />
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://jejakdunia.wordpress.com/2009/08/06/trailer-film-ketika-cinta-bertasbih-jilid-2/"><img src="http://img.youtube.com/vi/mVZUNwdCn7k/2.jpg" alt="" /></a></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejakdunia.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejakdunia.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejakdunia.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejakdunia.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejakdunia.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejakdunia.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejakdunia.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejakdunia.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejakdunia.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejakdunia.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejakdunia.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejakdunia.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejakdunia.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejakdunia.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=65&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/08/06/trailer-film-ketika-cinta-bertasbih-jilid-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9939b6e147f0a2cbc46e4608b1bf17a7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jejakdunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyibak Satu Tirai Malam</title>
		<link>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/07/29/menyibak-satu-tirai-malam/</link>
		<comments>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/07/29/menyibak-satu-tirai-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 03:49:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jejakdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakdunia.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan Malam itu memang belum terlalu larut, empat buah angka digital di handphone-ku-pun baru bertuliskan 08:42. Tapi aku coba merebahkan tubuh ini diatas sebuah kasur yang kini sudah tergeletak di ujung ruangan mungil ini. Kelelahan setelah melalui perjalanan yang hampir memakan waktu lebih dari 4 jam itu telah membuatku mendambakan kesempatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=63&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan</p>
<p>Malam itu memang belum terlalu larut, empat buah angka digital di handphone-ku-pun baru bertuliskan 08:42. Tapi aku coba merebahkan tubuh ini diatas sebuah kasur yang kini sudah tergeletak di ujung ruangan mungil ini.</p>
<p>Kelelahan setelah melalui perjalanan yang hampir memakan waktu lebih dari 4 jam itu telah membuatku mendambakan kesempatan ini. Sendiri, menikmati sepi, bercanda dengan malam sambil berada dalam sebuah ruang gelap ditemani wangi  pengharum ruangan yang baunya kini mulai merebak masuk ke rongga-rongga ini.</p>
<p>Perlahan satu persatu mata inipun mengajak pergi meninggalkan malam yang semakin pekat menutup aroma ibu kota.</p>
<p>Namun entahlah berapa lama mata ini terpejam, ketika ruang dengar ini mulai terisi oleh bacaan-bacaan ejaan ayat al-quran, semakin lama semakin jelas. Dan aku menikmatinya, meski memang alunannya terkadang harus terhenti dibeberapa bagian yang tidak tepat. Seorang wanita tengah mengeja bacaan yang luar biasa indahnya Alloh kirimkan untuk kita, ummat-ummat pilihannya. Sesaat kemudian seorang pria berusaha membetulkan bacaan yang terhenti itu kemudian membimbing, menemani serta menuntun bagaimana bacaan itu seharusnya dilafalkan.</p>
<p>Aku semakin menikmatinya.</p>
<p>Tempat kost yang saya tempati di sisa-sisa kemegahan ibukota ini memang berderet panjang dalam sebuah koridor yang telah menjadi penghubung diantara kami. Namun, untuk beberapa lama ini kamar yang tepat di sebelah kamarku memang tak ada penghuninya. Dan aku baru tahu kalau ternyata sejak beberapa malam sebelumnya, ibu dan bapak kost telah menjadikan kamar itu tempat belajar mengaji.</p>
<p>Aku mengangkat tubuh ini, perlahan membuka daun pintu dan berjalan di koridor itu untuk menuju keluar mengambil wudhu. Sesaat aku terhenti di depan pintu kamar itu. Seakan memastikan bahwa apa yang telah aku dengar beberapa saat tadi adalah bener-benar ada, bukan sebuah cerita yang mengisi alam mimpiku di malam ini.</p>
<p>Aku tersenyum, ada tangis dalam hati. Namun entahlah, mungkin juag ada rasa cemburu dalam jiwa ini.</p>
<p>Ketika mencoba mengingat begitu banyak pasangan-pasangan muda yang begitu nekatnya mengambil sebuah keputusan untuk mengakhiri perjalanan pernikahan mereka, ketika acara-acara infotainment di televisi dengan bangganya menyiarkan juga konflik-konflik perjalanan rumah tangga para pasangan selebritis, atau bahkan juga ketika kawin-cerai, dan berganti pasangan hidup menjadi satu tradisi baru diantara beberapa kalangan, na&#8217;udzubillah. Ternyata, alhamdulillah setidaknya ibu dan bapak kost yang saya amanahi akan diri ini, juga untuk bisa seakan menjadi orang tua kedua diri saya ketika berada di satu sisi ibu kota ini, jauh dari sifat seperti mereka. Padahal di usianya yang aku kira tidak kurang dari 60 tahunan, mungkin perjalanan pernihakannya hampir atau bahkan mungkin telah terlewat dari usia emas sebuah rumah tangga.</p>
<p>Dalam beberapa kesempatan, akupun mendapati mereka selalu paling awal hadir dalam acara pengajian di lingkungan ini. Bahkan pak Abidin, bapak kost-ku itu, tak jarang selalu menjadi mu&#8217;adzin di masjid, beliau telah lebih dulu mengumandangkan adzan disana padahal jamaah-jamaah lainnya baru melangkahkan kaki keluar dari rumah-rumah petakannya ketika waktu sholat tiba.</p>
<p>Sisi sebuah kepemimpinan dalam Islam memang terlebih dahulu telah harus ditampilkan dalam setiap pribadi ketika ia memimpin masing-masing dirinya. Namun, sisi kepemimpinan itu akan lebih terlihat ketika seorang suami mampu untuk bagaimana membimbing seorang hamba lainnya menjadikan ia seorang yang shalihah dalam menemani perjalanan rumah tangganya. Dan malam itu aku telah sedikit menemukannya pada diri beliau. Alhamdulillah, sebuah pelajaran berharga bagi kami para generasi muda yang mungkin memang semestinya harus mempersiapkan ini semua jauh-jauh hari sebelum sebuah kehidupan yang baru akan menjelang.</p>
<p>Mendapati satu lagi ilmu di malam itu bagai menyibak satu lagi tirai malam, yang mampu membuka arah pandang ini, hingga menemukan cahaya meski masih dikejauhan sana.</p>
<p>Sabda Nabi dalam sebuah riwayat, &#8220;Takutlah engkau kepada Allah SWT dalam urusan wanita. Sesungguhnya mereka adalah amanat di sisimu. Barang siapa tidak memerintahkan dan mengajarkan shalat kepada istrinya, berarti ia berkhianat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.&#8221; (Al-Hadis).</p>
<p>Malam semakin malam, riuh irama kota kini semakin lama semakin menyepi, meninggalkan hamba-hambanya yang masih merindu dalam kekhusu&#8217;annya beribadah dan meminta hanya pada Ia yang menguasai maha dalam segala ke-maha-annya.</p>
<p>Yaa Rabb, andai suatu hari Engaku-pun titipkan pada kami, seseorang yang akan menemani langkah ini, semoga Engkaupun sertakan pula kemampuan pada diri-diri ini untuk bisa membimbingnya, membinanya, menjadikan ia seseorang yang benar-benar shalihah bukan hanya dalam pandang mata ini, namun juga dalam pandang dihadapan-Mu, hingga kami bisa melangkah bersama menuju segala ridha-Mu.</p>
<p>Aamiin yaa robbal&#8217;alamiin</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejakdunia.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejakdunia.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejakdunia.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejakdunia.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejakdunia.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejakdunia.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejakdunia.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejakdunia.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejakdunia.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejakdunia.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejakdunia.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejakdunia.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejakdunia.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejakdunia.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=63&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/07/29/menyibak-satu-tirai-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9939b6e147f0a2cbc46e4608b1bf17a7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jejakdunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jadi Ketagihan!</title>
		<link>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/07/24/jadi-ketagihan/</link>
		<comments>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/07/24/jadi-ketagihan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 03:27:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jejakdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun ke-11 detikcom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakdunia.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan Gw masih klik sana klik sini halaman google yang orang bilang segalanya bisa ditemuin disana. Hampir dua jam sudah, halaman yang cuma berisi satu textbox sama satu button itu gw klik terus-terusan pake keyword nama gw. Tapi hasilnya tetap sama, nihil. Gak ada satupun dari list result-nya yang nunjukkin kalo [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=59&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan</p>
<p>Gw masih klik sana klik sini halaman google yang orang bilang segalanya bisa ditemuin disana. Hampir dua jam sudah, halaman yang cuma berisi satu textbox sama satu button itu gw klik terus-terusan pake keyword nama gw. Tapi hasilnya tetap sama, nihil.</p>
<p>Gak ada satupun dari list result-nya yang nunjukkin kalo nama gw ada disana. Coba-coba lagi gw gak habis akal, sekarang gw coba banting stir ganti keyword disana bukan lagi pakai nama gw tapi nyari tips and trik cara gimana biar bisa terkenal lewat dunia yang satu ini. Beberapa hasilnya  alhamdulillah nggak ngecewain, seabreg link halaman situs ditampilin disana nunjukkin cara mengenai hal itu. Dari mulai nyuruh gabung di beberapa group milist dan rajin-rajin posting komentar disana, terus nyuruh bikin account di friendster, nyuruh beli domain plus hostingan yang sayangnya emang waktu itu emang masih mahal, bahkan ada juga situs-situs yang nyaranin buat nyari cara gratisan dengan bikin blog misalnya di beberapa situs blog yang ngasih fasilitas buat kita untuk bikin blog gratisan disana.</p>
<p>Tentu dong yang cara terakhir gw liat paling aman plus paling masuk akal buat posisi gw yang baru kali itu memang bisa bebas-bebasan berselancar di internet.</p>
<p>Hari itu memang hari pertama gw kerja di salah satu perusahaan konsultan IT di jakarta. Sebagai seorang (calon) programmer (itupun masih junior, red), tentunya di hari pertamapun gw udah dikasih fasilitas sebuah komputer yang jauh lebih dari cukup. Sebuah komputer yang lebih baik tentunya, setidaknya kalo komputer itu gw bandingin sama komputer-komputer lemot di lab komputer kampus gw yang sebelum-sebelumnya tapi memang gak bisa dipungkiri telah banyak berjasa banget buat gw, apalagi pas nyusun skripsi. Meski nggak jarang dengan segala kerendahan hati komputer-komputer itu sering kali nyuruh gw untuk bisa belajar bersabar, dan ternyata akhirnya alhamdulillah semua itu kini telah mengantarkan gw untuk bisa duduk di depan komputer dengan spek yang gw pikir gila-gilaan, apalagi tanpa harus terburu-buru karena dikejar-kejar jatah dari sang penjaga lab dengan lirikan mata saktinya untuk segera mengosongkan meja tempat gw nongkrongin komputer disana karena setelah satu jam berlalu segera komputer itu harus segera gw ikhlasin buat diduduki (wah rusak dong, hehe) maksudnya dikasihin untuk dipake sama mahasiswa lainnya.</p>
<p>Langit Jakarta memang cukup cerah siang itu, bahkan lebih dari cukup kalo gw bandingin sama suasana sehari-hari gw pas masih jadi mahasiswa di Bandung. Tapi anehnya gw malah ngerasa kedinginan di ruangan itu. Semburan udara dari air conditioner di ruangan itu emang cukup membuat gw ngerasa kurang nyaman kali itu. Aneh, kalo ada Tukul disana waktu itu pasti kata-kata pertama yang bakalan dia bilang ke gw adalah &#8220;&#8230; dasar wong ndeso!&#8221;. Makanya gw coba ilangin rasa kedinginan gw itu dengan berdekat-dekat sama layar monitor. (Tentunya gw gak pake ngadepin kedua telapak tangan gw ke arah monitornya dong, hehe).</p>
<p>Gw langsung nyari situs buat bikin blog gratisan itu. Temen gw yang satu nyaranin buat pake blogspot, alasannya sederhana karena blogspot masih ada pertalian kekerabatan sama google makanya katanya itu bakalan lebih cepat mengindex segala hal yang kita posting di blog tersebut untuk dimunculin di halaman mesin pencari google. Tapi, ternyata lain halnya sama temen gw yang satu lagi, dia malah nyaranin gw buat bikin blog di wordpress. Alasannya katanya justru wordpress yang lebih cepet mengindex postingan kita daripada blogspot sekalipun.</p>
<p>Aaarrrrggghhh &#8230;.. gw bingung.</p>
<p>Hampir saja gw hitung-hitungan pake kancing buat ngambil keputusan, milih yang mana yang bakalan gw ambil buat jadi tempat gw posting segala hal tentang gw. Tentunya tujuannya satu dong, gimana carannya biar nama gw cepet muncul di google, just that!</p>
<p>Tapi, tanpa sengaja gw ngeliat salah satu signature kakak kelas gw di milist yang disana ditulis alamat blog dia pake embel-embel dot multiply dot com. Gw coba klik link blog tersebut, dan gw bisa ngeliat halamannya disana. Tertarik, ternyata akhirnya gw justru ngambil yang itu lebih dulu buat gw jadiin tempat blog gw. Coba-coba daftarin username atas nama dik2, ternyata masih available. Langsung aja gw comot.</p>
<p>Hari itupun gw langsung posting beberapa tulisan disana tanpa lupa pake nama gw dicantumin di tiap postingannya, serta gw juga pake nama gw sebagai tag di tiap postingannya itu. Kalo inget itu gw jadi pengen ketawa sendiri, gw bener-bener gak tau apa sebenernya fungsi tag dalam sebuah blog.</p>
<p>Tiap beres satu postingan, gw langsung buka lagi si om google, gw ngarep banget nama gw udah nongol disana. Tapi kayaknya lagi-lagi gw harus gigit jari, nama gw blom ada sama sekali disana.</p>
<p>Posting lagi, cari lagi, posting lagi, cari lagi, begitulah berkali-kali gw sambil ngehayal bisa jadi orang terkenal meski hanya di dunia maya.</p>
<p>Hampir menyerah, akhirnya gw ambil jalan lain. Kayaknya gw harus nurutin apa kata temen-temen gw. Dalam dua window, akhirnya gw bikin blog lagi. Yang satu di blogspot, satu lagi di wordpress. Kadang gw manggut-manggut sendiri sambil menatap langit-langit ruangan itu buat nyari nama buat blog-blog baru gw itu. Karena id yang sama kayak di multiply tadi udah di-reserve sama orang, akhirnya gw pakai id &#8220;saturindu&#8221; buat blog yang di blogspot, trus id &#8220;jejakdunia&#8221; buat blog yang di wordpress. Akhirnya selesailah sudah gw punya tiga blog sekaligus dihari itu. Meski sebagian isinya dari blog gw yang dua lagi itu gw copy dari blog multiply yang emang udah lebih dulu gw bikin.</p>
<p>Gak kerasa, jam di hape gw udah nampilin angka 17:25. Gw gak nyadar pas tiba-tiba pundak gw ada yang nepuk.</p>
<p>&#8220;Gimana dik hari ini?&#8221;, katanya.<br />
Sumpah gw gelagapan buat jawab pertanyaan atasan gw saat itu. Gw baru inget kalo tumpukkan dokumen dari beliau buat dipelajari tentang sistem yang harus gw bangun sama sekali belum gw sentuh.</p>
<p>&#8220;Sorry bos, gw janji besok bakal kerja bener deh, doain juga ya biar nama gw cepet ke-index di google&#8221;, kata gw dalam hati seiring dengan keberaluan pak Bos ninggalin meja gw.</p>
<p>(Sebuah memori di pertengahan tahun 2006, yang udah nganterin gw sampe sekarang plus udah ngantetin gw jadi ketagihan bikin beberapa blog, gak terkecuali di blogdetik, dan yang tentu pastinya juga udah bikin nama gw sekarang nongol di google, hehe)</p>
<p><a title="netbook" target="blank" href="//microsite.detik.com/detik-birthday-2009/"> <img src="//o.detik.com/images/wp/Banner_Hut_detikcom_180_125.gif"></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejakdunia.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejakdunia.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejakdunia.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejakdunia.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejakdunia.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejakdunia.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejakdunia.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejakdunia.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejakdunia.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejakdunia.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejakdunia.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejakdunia.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejakdunia.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejakdunia.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=59&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/07/24/jadi-ketagihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9939b6e147f0a2cbc46e4608b1bf17a7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jejakdunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mereka Juga Punya Hak Rezeki di Hari Ini</title>
		<link>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/07/10/mereka-juga-punya-hak-rezeki-di-hari-ini/</link>
		<comments>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/07/10/mereka-juga-punya-hak-rezeki-di-hari-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 08:46:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jejakdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakdunia.wordpress.com/2009/07/10/mereka-juga-punya-hak-rezeki-di-hari-ini/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan Mendapati pagi di hari ini memang agak beda dari biasanya. Aku memilih untuk menikmati sepuasnya udara di balik sebuah jendela meski bukan berpanorama lahan berbukit ataupun pohon menghijau di kejauhannya. Menghirup nafas kebebasan dalam berucap syukur pada-Nya setelah sebuah periode kembali aku lalui dalam malam panjangnya. Aku melangkahkan kaki, memutar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=57&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan</p>
<p>Mendapati pagi di hari ini memang agak beda dari biasanya. Aku memilih untuk menikmati sepuasnya udara di balik sebuah jendela meski bukan berpanorama lahan berbukit ataupun pohon menghijau di kejauhannya. Menghirup nafas kebebasan dalam berucap syukur pada-Nya setelah sebuah periode kembali aku lalui dalam malam panjangnya.</p>
<p>Aku melangkahkan kaki, memutar kunci kamar dan membuka pintu menuju ke pelataran kamar kost untuk kemudian aku kini semakin mendekat kedalam suasana ketika sang mentari bersembunyi di antara bangunan-bangunan berlapis kaca itu. Aku meliriknya, meski kemudian ia hanya tersipu malu dan menyelinap kembali kebalik dinding-dindingnya.</p>
<p>Ini memang hari raya kembali bagi kami ummat Islam, Hari jum&#8217;at ini bukan hanya telah mengantarkan diri atas berjuta kesyukuran dari semua yang telah kami lalui dalam satu pekan. Namun, selain itu juga, setidaknya hari inipun begitu berharga bagi kami para pekerja &#8220;kuli&#8221; yang masih menggantungkan jalan rezeki dari Alloh melalui tangan orang lain. Hari jumat memang menjadi satu-satunya hari yang selalu kami rindu kehadirannya, karena di dua hari kemudiannya kami berharap akan dapat mendapati suasana yang agak berbeda dengan rutinitas biasanya.</p>
<p>Sejenak pandang ini berbalik ke arah beberapa tanaman yang kini mulai tak tersentuh di pojokan sana. Aku sudah  tidak ingat lagi, entah berapa lama tangan ini sudah tidak menghiraukannya lagi. Meski mereka kini mulai layu, namun biasanya ego diri kadang lebih memuja kepentingan pribadi daripada hanya meperhatikan kehidupan mereka, kehidupan yang begitu sederhana dari mereka meski hanya berupa tanaman-tanaman yang memang tak bisa berbicara itu.</p>
<p>Aku mencoba melangkahkan kaki. Mengambil air di belakang sana.</p>
<p>Meski harus tertatih menyiramkan air-air itu kepadanya, namun aku lalui semuanya dengan kenikmatan. Nikmat ketika mendapati kembali satu perubahan berseri dari kilau-kilau daunnya. Nikmat ketika mendapati kembali satu perubahan kesegaran dari batang-batang kecil yang berdiri mematung menyokong tubuhnya. Atau juga nikmat ketika mendapati kembali kuncup-kuncup bunga yang sebelumnya hampir menyerah kalah karena tak mampu bertahan ketika pasokan mineral untuknya tak lagi tercukupi.</p>
<p>Alhamdulillah kini mereka kembali.</p>
<p>Memang tak ada sorakan gembira, atau bahkan pula tak akan pernah ada anggukan tubuh serta ucapan terimakasih yang akan bergulir dari daun-daun, akar, batang ataupun kuncup itu pada kita. Namun entahlah, setiap kali setelah aku melakukan hal ini selalu ada kedamaian yang terbersit dalam hati ini.</p>
<p>Mereka terdiam namun ternyata dalam diamnya mereka begitu banyak memberi pelajaran pada kita. Tak jarang mereka memberi kesejukan pada diri ini, namun apa balasannya? Bukankah kita hanya terlalu sering menikmatinya tanpa berusaha untuk mampu berbalas budi padanya?</p>
<p>Hal ini pelajaran pertama yang dapat aku dapatkan, bukankah juga hal ini berlaku pada diri ini terhadap orang lain? Entahlah &#8230;</p>
<p>Ah, antara hati dan pikiranku lagi-lagi kini bersilang lagi pendapat didalam jiwa ini. Menyesali semuanya, serta menyalahkan atas segala tindak dan langkah yang pernah diperbuat untuk melalaikan mereka.</p>
<p>Tapi tunggu dulu, rasanya ada satu hal lagi yang mereka katakan dalam diamnya?</p>
<p>Ya, ternyata dalam diamnya merekapun mengajarkan kita untuk belajar kembali memahami makna akan begitu besarnya makna yang ada, ketika kita bisa menjadi jalan rezeki bagi mahluk yang lain.</p>
<p>Memang benar ternyata, mereka-pun mahluk-mahluk Alloh yang dititipkan oleh-Nya untuk kita pelihara serta untuk kita jaga. Mereka berhak mendapatkan rezeki hari ini, rezeki yang meski hanya sebulir air yang sebetulnya telah Alloh berikan kepada mereka, namun begitu sulit meraihnya apalagi ketika hujan telah begitu lama tidak menyapa ranah tanah di bumi ini, hingga ternyata kesempatan itu menjadi satu lagi ladang amal bagi kita untuk dapat memberikannya.</p>
<p><span style="font-style:italic;">Subhanalloh &#8230;</span></p>
<p>&#8220;Jadilah jalan kemudahan bagi orang lain dalam hal kebaikan apapun, niscaya engkaupun akan diberikan pula jalan kemudahan dalam mendapatkan segala kebaikan pula dari yang lainnya&#8221;.</p>
<p><span style="font-style:italic;">Wallahu&#8217;alam bish-shawab</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejakdunia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejakdunia.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejakdunia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejakdunia.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejakdunia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejakdunia.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejakdunia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejakdunia.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejakdunia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejakdunia.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejakdunia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejakdunia.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejakdunia.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejakdunia.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=57&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/07/10/mereka-juga-punya-hak-rezeki-di-hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9939b6e147f0a2cbc46e4608b1bf17a7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jejakdunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tersadar Atas Apa Yang Terlewat</title>
		<link>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/06/24/tersadar-atas-apa-yang-terlewat/</link>
		<comments>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/06/24/tersadar-atas-apa-yang-terlewat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 08:05:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jejakdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakdunia.wordpress.com/2009/06/24/tersadar-atas-apa-yang-terlewat/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan Berbelok dari arah Bundaran Hotel Indonesia, memasuki kawasan Imam Bonjol di pusat Jakarta seakan memasuki kawasan ramah akan kehidupan. Suasana hijau masih terlihat dipinggirannya sana, meski tak jarang di beberapa bagian sudah berdiri bangunan-bangunan kokoh yang tinggi menjulang. Dalam sebuah bis ber-cat putih, yang kini lajunya telah semakin kencang namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=56&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan</p>
<p>Berbelok dari arah Bundaran Hotel Indonesia, memasuki kawasan Imam Bonjol di pusat Jakarta seakan memasuki kawasan ramah akan kehidupan. Suasana hijau masih terlihat dipinggirannya sana, meski tak jarang di beberapa bagian sudah berdiri bangunan-bangunan kokoh yang tinggi menjulang.</p>
<p>Dalam sebuah bis ber-cat putih, yang kini lajunya telah semakin kencang namun terkadang terpaksa harus di rem mendadak karena letak lampu merah yang begitu teramat dekat jaraknya dari satu perempatan ke perempatan lainnya, beberapa orang kini bergelantungan pada sebatang besi yang melintang diatas kepala mereka. Sesekali tubuh-tubuh mereka hampir terhempas, terguncang dan hampir terlepas dari kuat pegangannya.</p>
<p>Aku sendiri berdiri di dekat jendela sebelah bagian dekat pintu belakang. Menyaksikan Jakarta yang kini mulai kembali ramai dengan berbagai fose para calon pemimpin negeri. Aku tak jarang pula diajak untuk tersenyum kecut dalam hati, ketika menyaksikan semuanya itu.</p>
<p>Gerimis kini mulai membayangi malam. Entah berapa lama sudah Jakarta memang tak diguyur hujan. Aroma bau khas dari tanah lapang yang kini mengepul diantara rongga hidung mulai bergelayut mengiring perjalanan malam itu. Beberapa orang terlihat hilir mudik di pinggiran jalan sana.</p>
<p>Aku masih berusaha mencerna kata-kata ustadz siang itu. Tentang perumpamaan dari seorang yang berada pada satu situasi kebingungan teramat sangat karena menjalani kehidupannya. Ketika berbagai persoalan menjejali pikirannya, lengkap dengan berbagai permasalahan yang semakin pelik menambah ruwet bak benang kusut. Wallohu&#8217;alam, setidaknya kadang memang itu juga yang tak jarang aku atau kita rasakan bukan?.</p>
<p>&#8220;Bersihkanlah dulu kacanya, nanti juga jalan didepan mata akan kelihatan&#8221;, kata ustadz itu, ketika memperumpamakannya seseorang yang sedang dilanda dengan berbagai persoalan dalam hidupnya tadi bagaikan kondisi seorang sopir yang berada dalam lebatnya hujan.</p>
<p>Aku terhenyak kaget, ternyata memang benar, kadang kita hanya memikirkan untuk bagaimana agar bisa berupaya keras dengan segala cara untuk mencari jalan keluar dari persoalan kehidupan kita, tanpa kita sedikitpun mau mencoba melirik kedalam jiwa, bermuhasabah didalam diri, membersihkan hati serta memperbaiki semuanya atas diri kita agar tidak terhalang oleh begitu tebalnya debu-debu dosa yang ada didalamnya.</p>
<p>Aku menarik nafas panjang.</p>
<p>Betapapun kerasnya perjuangan kita, semua hanyalah bentuk ikhtiar semata. Segala keberhasilan darinya hanyalah Alloh yang layak menganugerahkannya kepada kita.</p>
<p>Gerimis kini perlahan melambat. Butir-butir airnya pun di kaca perlahan kini mulai menghilang lembali. Berganti dengan cahaya-cahaya dari beberapa sinaran di luar sana yang menyeruak. Aku melangkahkan kaki, menuruni anak tangga dari bis yang kini berhenti.</p>
<p>Yaa Rabb &#8230;<br />
Ampuni kami yang begitu angkuhnya hingga dengan segala upaya mengejar segala keinginan agar bisa diraih.<br />
Ampuni kami yang begitu sombongnya hingga dengan segala cara seakan memaksa agar segala harap dapat dicapai.<br />
Tanpa kami sadari, tanpa mengerti akan kuasa-Mu yang memiliki Maha atas segala ke-Maha-an-Mu.</p>
<p>Yaa Rabb,<br />
Mampukanlah diri ini untuk bisa membersihkan kembali hati ini, menata kembali dari semuanya, hingga kemudian engkau berikan kemampuan juga agar bisa menatap kedepan dalam kelengangan jalan keluar atas segala problema yang ada.</p>
<p>Yaa Rabb,<br />
Kabulkanlah do&#8217;a kami &#8230;</p>
<p><span style="font-style:italic;">Aamiin yaa robbal&#8217;alamiin</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejakdunia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejakdunia.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejakdunia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejakdunia.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejakdunia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejakdunia.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejakdunia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejakdunia.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejakdunia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejakdunia.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejakdunia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejakdunia.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejakdunia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejakdunia.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=56&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/06/24/tersadar-atas-apa-yang-terlewat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9939b6e147f0a2cbc46e4608b1bf17a7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jejakdunia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Resensi Film Ketika Cinta Bertasbih (1)</title>
		<link>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/06/15/resensi-film-ketika-cinta-bertasbih-1/</link>
		<comments>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/06/15/resensi-film-ketika-cinta-bertasbih-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 08:12:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jejakdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[ketika cinta bertasbih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakdunia.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan Menarik! Jika kita melihat satu karya visual ini serta disandingkan dengan beberapa komentar dari mereka yang sudah menontonnya. Ada banyak sanjungan serta pujian, namun pula tak sedikit lagi-lagi kritikan bersandar pada dinding-dinding kesuksesan film tersebut. Sebuah film yang diambil dari sebuah novel karya Habiburrahman El Shirazy, yang berhasil menyandang predikat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=53&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan</p>
<div id="attachment_52" class="wp-caption alignright" style="width: 224px"><img class="size-medium wp-image-52" title="Ketika Cinta Bertasbih" src="http://jejakdunia.files.wordpress.com/2009/06/posterkcb_1.jpg?w=214&#038;h=300" alt="Ketika Cinta Bertasbih" width="214" height="300" /><p class="wp-caption-text">Ketika Cinta Bertasbih</p></div>
<p>Menarik! Jika kita melihat satu karya visual ini serta disandingkan dengan beberapa komentar dari mereka yang sudah menontonnya. Ada banyak sanjungan serta pujian, namun pula tak sedikit lagi-lagi kritikan bersandar pada dinding-dinding kesuksesan film tersebut.</p>
<p>Sebuah film yang diambil dari sebuah novel karya Habiburrahman El Shirazy, yang berhasil menyandang predikat sebagai novel &#8220;Mega Best Seller&#8221; ini, memang telah lama dinantikan oleh jutaan calon penontonnya dari jauh-jauh hari. Hal ini terbukti dengan banyaknya perhatian masyarakat pada proses pembuatan film ini mulai dari proses casting, survey lokasi, shooting, editing sampai kini ketika film tersebut berhasil bertengger di layar-layar bioskop. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga sekaligus di 7 negara lainnya.</p>
<p>Banyaknya harapan akan film ini akhirnya dipertaruhkan pada tangan apik sang sutradara senior Chaerul Umam. Bersama dengan berbagai kalangan senior perfilm-an Indonesia, Sinemart sebagai Production House yang menggarap film ini akhirnya kini berhasil mempersembahkannya pada khalayak.</p>
<p>Film ini secara keseluruhan tak ada sedikitpun yang melenceng dari alur cerita yang ada di novel-nya. Bahkan jika kita telah membaca novel itu sebelumnya, kita tidak akan pernah sulit untuk menebak apa yang akan terjadi pada scene berikutnya dari film ini ketika menyaksikan sebuah karya visual ini.</p>
<p>Namun sayangnya memang sebuah konsekuensi harus diterima oleh masyarakat, dengan padatnya alur cerita yang ada, sehingga menjadikan film ini cukup membuat sebagian dari para penontonnya sempat kecewa ketika dengan terpaksa film ini harus dibagi menjadi dua bagian, seperti halnya cerita yang ada pula pada novelnya.</p>
<p>Hal ini menjadikan sebagian orang berpendapat film  Ketika Cinta Bertasbih pada bagian pertama ini tak terdapat klimaks didalamnya. Semua bagai aliran air yang mengalir saja.</p>
<p>Pada lain hal, jika kita lihat dari sisi syariah-nya, film-film ini betul-betul sangat amat menjaganya. Beberapa adegan yang dikhawatirkan dapat merusak pesan yang ada pada film inipun, ketika misalnya adegan dua orang yang jelas-jelas bukan muhrim untuk berada pada scene yang sama, seperti ketika Azzam pertama kali bertemu kembali dengan adiknya Husna, jika menurut novel mereka berpelukkan, namun disini tidak ditampilkan demikian, bahkan bersentuhan tanganpun tidak. Subhanalloh, ini sebuah nilai tambah yang tak terkira. dan terbukti hal itu ternyata tidak sedikitpun mengurangi nilai estetika dari film ini sama sekali.</p>
<p>Kemudian, tampilan mesir sebagai setting tempat yang dijadikan faktor unggulan di film inipun digeber habis-habisan oleh sang sutradara. Tidak heran jika kita melihatnya film ini, kita seakan berada disana mengikuti jejak-jejak para tokoh yang ada didalamnya. Dari mulai Cairo, Nile City, Alexandria, dsb semua ditampilkan secara maksimal.</p>
<p>Namun memang, ada beberapa scene yang disayangkan sepertinya kurang maksimal dalam penggarapan film ini. Seperti halnya ketika adegan pertemuan Azzam dan Furqon sebagai sepasang sahabat lama yang bertemu kembali dengan lattar langit Alexandria, langit itu beserta cropping dari tubuh kedua tokoh sepertinya agak kasar, dan &#8220;outer glow&#8221;-nya nya-pun masih sangat kelihatan.</p>
<p>Selebihnya, film ini cukup layak untuk dijadikan film yang direkomendasikan layak ditonton. Bahkan tak perlu takut jika kita membawa anak-anak kecil sekalipun, karena boleh dibilang tak ada satupun scene yang berbahaya bagi mereka.</p>
<p>Semoga awal niat yang baik dari penggarapan film ini bisa juga mengantarkannya kepada hasil yang terbaik pula. Maju terus perfilm-an Indonesia.</p>
<p>InsyaAlloh &#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejakdunia.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejakdunia.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejakdunia.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejakdunia.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejakdunia.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejakdunia.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejakdunia.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejakdunia.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejakdunia.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejakdunia.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejakdunia.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejakdunia.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejakdunia.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejakdunia.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejakdunia.wordpress.com&amp;blog=1531047&amp;post=53&amp;subd=jejakdunia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakdunia.wordpress.com/2009/06/15/resensi-film-ketika-cinta-bertasbih-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9939b6e147f0a2cbc46e4608b1bf17a7?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jejakdunia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jejakdunia.files.wordpress.com/2009/06/posterkcb_1.jpg?w=214" medium="image">
			<media:title type="html">Ketika Cinta Bertasbih</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
